Kesenjangan yang BIAS(A)

"mas, bagaimana caranya agar Pak Bupati tidak lewat depan kantor. Kalau boleh kita minta untuk lewat pinggir Danau saja?"

Masih ingat betul penggalan pembicaraan yang kira-kira seperti kalimat diatas. Waktu itu aku masih berada di Desa Wae Sano, menjadi mahasiswa yang KKN disana. Sudah beberapa minggu terakhir suasana Desa Wae Sano yang biasanya tiap pagi sepi ditinggal masyarakatnya berladang terkesan lebih ramai. Bapak-bapak sibuk berangkat dari rumah dengan membawa linggis, palu besar, cangkul dan karung-karung. Semua menjadi kuli pengumpul batu untuk keperluan proyek besar dalam persepsi mereka ; proyek pembangunan jalan.

Pembangunan jalan menuju Desa Wae Sano merupakan impian yang seolah menjadi nyata. Selama ini jalan yg ada hanya berupa jalan batuan yang memutar Danau Sano Nggoang. Pembangunan jalan mendapat apresiasi yang luar biasa dari warga. Semua berbondong dan tulus untuk membantu pengerjaan. Dalam hal ini, salah satu tender yang diserahkan kepada Kepala Desa adalah dalam hal penyediaan batu.

Batu sebagai bahan dasar yg digunakan untuk pembangunan jalan dimonopoli oleh Pak Kades. Semua warga yang memiliki lahan perkebunan diminta untuk menambang batu di lahan milik mereka dan hasil tambang akan dibeli oleh Pak Kades untuk kemudian di jual lagi pada kontaktor dengan harga yang murah !.

Dua hari lagi akan dilaksanakan Festival Budaya Danau Sano Nggoang di Desa Nunang. Bupati lengkap dengan semua Kepala Dinas dan tamu undangan yang ada di Kabupaten Manggarai Barat akan hadir untuk menyaksikan sekaligus membuka. Semua berkemas membenahi desa, mahasiswa yang KKN menjadi pioner mengkonsep kegiatan dan masyarakat bahu membahu merancang kesuksesan acara. Kami (mahasiswa) dan semua masyarakat dengan semangat mempersiapkan acara sakral ini. Di kalangan masyarakat Desa Wae Sano, ini adalah kedatangan Bupati pertama kali kedesa mereka sejak desa itu ada dimuka bumi ini. Kebanggan tersirat di muka lelah tiap orang-orang yang terlibat dalam acara ini, menjadi lebih kompleks dengan keceriaan anak-anak dengan senyum polos mereka.

Aku tertegun sejenak sesaat setelah berbincang dengan Pak Kades. Dia adalah satu-satunya orang yang bermuka murung, senyum kecut dan paling khawatir. Hampir disepanjang jalan yang menuju lokasi Festival. Di pinggir-pinggir bukit terdapat celah bekas kerukan tambang batu. Sebuah kegiatan yang sangat mengerikan jika kita membayangkan dampak penambangan ini. Dengan topografi yang berbukit akan sangat rentan dengan longsor. Belum lagi efek terhadap kerusakan lingkungan lainnya. Pak Kades tidak pernah mau mendengar masukan dari kami yang tengah KKN disana.

Ketika Ia menanyakan cara untuk menutupi semua itu agar tidak terlihat oleh rombongan Bupati yang akan datang menghadiri Festival, aku benar-benar melihat seraut muka yang kalut bukan hanya karena keuntungan finansial yg akan Ia dapatkan bisa hilang namun lebih dari itu, jabatan bisa melayang akibat keserakahannya.



"NTT : Nasib Tidak Tentu", (Kades Wae Sano, 2011).

2 komentar:

  1. sori, sob! kunjungan aja.. cerita ini di daerah atau pulau mana,ea...??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini di daerah Manggarai Barat Mas, NTT

      Hapus

Silahkan Komentar