Kau Senja

Seperti kebanyakan orang yang menantikan senja, sesungguhnya orang-orang itu bosan dengan gairah yang diberikan pagi dan merindukan perenungan. Merenung itu anugerah, bias-nya menggurat indah seperti mentari yang hendak tenggelam. Aku sedikit muak dengan orang yang menuhankan pagi, seolah hidupnya selalu berharap tanpa evaluasi waktu senja menyapa.  


Kita Harus Percaya, Mimpi Itu Indah..!

Benarlah bahwa aku sudah terlalu lama tidak mengisi blog ini, terakhir menulis tepatnya pada tanggal 2 Desember 2014, lebih dari setahun yang lalu. Setahun, waktu yang panjang terlewati. Dalam cerita hidupku, setahun berlalu dengan 12 bulan membangun usaha dan harus memenuhi kewajiban membayar gaji, menghabiskan 2 semester dibangku kuliah, dan sama juga dengan energi yang harus terbayar untuk itu semua. Banyak hal yang ingin ditulis, telah menumpuk di ubun-ubun, namun tumpukan itu menggunung menjadi beban yang cukup membuat pusing. Dari banyak hal itu, ternyata aku berhasil menyadari bahwa semua beban itu ternyata adalah mimpi yang puluhan tahun aku pupuk untuk bisa tersemai, tumbuh, dan terwujud. Selayaknya aku bersyukur.

Jogja malam ini masih hujan, satu persatu teman yang mengisi kantor beranjak pulang. Sepertinya aku akan pulang terakhir, mengerjakan kewajiban yang menumpuk entah itu tugas kuliah, maupun persiapan akreditasi perusahaan yang sebentar lagi akan dilakukan. Hujan memang menyenangkan, setidaknya untuk menenangkan fikiran dan membawa suasana tenang. Hujan juga yang membuat keinginan untuk menulis blog ini kembali timbul.

Beberapa minggu terakhir, aku lebih banyak merenungi keadaan, bahkan di suatu malam dikantor bersama 3 orang sahabat sempat kami berbincang menertawakan keadaan yang bisa kami capai hingga saat ini. Keadaan saat ini adalah mimpi kami satu tahun yang lalu. Mimpi yang entah bagaimana caranya untuk bisa kami wujudkan ; tanpa pengetahuan yang cukup, tanpa modal, tanpa bantuan orang lain, tanpa apapun yang kami miliki selain percaya bahwa apa yang kami impikan dan rencanakan akan menguak misteri tentang mimpi-mimpi itu. Berhasil atau tidak, waktu memiliki catatan sendiri.

Meeting terakhir TRIC sebelum akreditasi
Setahun yang lalu, kami impikan memiliki perusahaan sendiri, kami bermimpi perusahaan itu dapat memberi peran sekecil apapun untuk pengelolaan hutan dan sektor kehutanan di Indonesia. Mimpi yang gila, untuk anak-anak muda yang tidak memiliki dasar bisnis apapun dan tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola itu semua. Kami belajar dari keadaan, bertanya dan berguru pada orang-orang yang jauh lebih berpengalaman, kami mencoba mengatasi segala keadaan dan mencoba menciptakan peluang dari semua keterbatasan. Dibina oleh banyak cibiran, saling men-support untuk mengatasi cobaan, mencoba saling berbagi untuk menutup banyak kekurangan. Perusahaan ini dibentuk oleh ide gila, orang-orang gila, dan didirikan dari relung yang memiliki banyak kekurangan.

Sore ini adalah meeting terakhir persiapan TRIC sebelum akreditasi. Menyenangkan, tapi kurang satu personil, Luqman sedang berangkat ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Sebuah mimpi yang kami bangun "dari Nol", jika boleh aku menirukan slogan SPBU. Kami mengisi tangki kosong, mencari bahan bakar untuk lokomotif yang bermula hanya mengawang di fikiran kami masing-masing. Mengumpulkan tetes-tetes keringat yang terserak entah dimana, mengumpulkan dan membangun mimpi dengan peluh usang itu. Kita harus percaya, mimpi itu indah!. Aku percaya, bahwa dalam hidup mimpi menjadi hal penting yang tidak hanya merangsang otak untuk berfikir keluar batas kehidupan normal, melainkan stimulus yang akan merangsang energi-energi positif dalam berkarya. Bukankah hidup sekecil-kecilnya untuk dapat memberi manfaat? Setidaknya untuk diri sendiri, manfaat untuk diri sendiri akan tercipta jika mimpi bisa diwujudkan.

Setahun, aku tidak menulis, tidak pula aktif membaca. Media sosial juga tidak lebih dari basa-basi biasa, chek-in ditempat baru, atau hanya posting-posting foto. Hampir tidak ada konten penting yang aku tulis, padahal aku percaya bahwa salah satu fungsi media sosial adalah refleksi dimasa depan untuk kita bisa mengenang perjalanan hidup dan bisa dibaca dikemudian hari. Setahun adalah waktu yang cukup panjang, energi terfokus dan tercurah untuk membangunkan mimpi-mimpiku dalam tidur panjang. Dalam sebuah seminar, pernah ada yang menyampaikan pertanyaan kepadaku ; "mas, untuk pemula modal apa yang kita butuhkan untuk membangun usaha?". Aku bingung harus menjawab apa, satu hal yang aku tau dan hingga saat ini aku miliki adalah kita harus memahami passion. Hidup tidaklah singkat, pengalaman-pengalaman yang ditemui akan sangat membosankan jika tidak dijalani dan didasari oleh kesenangan dan ketertarikan. Akhirnya, sesuatu yang dimulai dengan interest akan secara konsisten kita jalankan dan percayalah setiap pengalaman yang dibangun dengan rasa suka dan konsisten akan menjadikan sebuah bangunan penting dalam kehidupan. Kita bisa saja menjalani hidup dengan berpura-pura atau bahkan membohongi diri sendiri, namun nurani akan selalu membisikkan bahwa bukan itu jalan yang sebenarnya dan bukan itupula pencapaian yang hendak dilabuhkan. Sesimpel itu kah? Kira-kira begitu. Bisikan nurani itupula yang sebenarnya merupakan doktrin dari mimpi, mimpi yang sering disadari tidak bermakna namun sering pula mendatangkan penyesalan di masa yang akan datang. Mimpi yang sebenarnya setiap orang berpeluang membangunnya, menjadikan mimpi itu sebagai istana, taman tempat menikmati hidup, rumah tempat berteduh, atau mesjid tempat kita bisa mengamalkan segala kebaikan.

Semoga bermanfaat,
HMW


Catatan :
Tulisan ini ditulis tanggal 14 Desember 2015, tiga hari sebelum PT. Trifos Internasional Sertifikasi akan di akreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). 

Tentang gelisah dan tanya

Aku tulis lagi satu cerita, tentang sejarah yg tak ingin aku lewatkan begitu saja. Mencintai dengan sederhana, karena itu yg aku mau dan harapkan. Tidak baiklah rasanya berlebihan menghadapi hidup yg masih jadi misteri. Ada banyak detail hidup yg menyenangkan jika dinikmati. Sekali lagi, sederhana saja. Proses demi proses setiap orang akan menjadi dirinya sendiri, akan tetapi orang beruntung adalah yg cepat menguasai dan menyadarinya.

Cerita selalu terikat dengan waktu dan obyek, meskipun kadang menjadi bagian dari tujuan.

Bicara tujuan, sedikit yg dapat membedakan tujuan dengan obsesi, seperti halnya orang-membedakan Visi dan Misi. Proses menjadikan tujuan beriring dengan tindakan. Sekali lagi yg mampu menyadari dengan sederhana adalah hati, logika adalah penyeimbang dan pengawal proses. Aku terlarut dalam memaknai itu semua. Mencoba menerka nilai-nilai dengan fakta yg ditemui. Menjalani dengan "rasa", menganalogikan skenario dengan perasaan, jalan yg dibukakan oleh waktu, dan akhir yg akan ditunjukkan oleh misteri dariNya.

Seperti seorang anak kecil dengan kepolosannya. Belajar mengayuh sepeda dan sering terjatuh. Menghayalkan kebahagiaan seperti yg didapat oleh teman bermainnya dipekarangan. Dan menceritakan pada Ibunda tentang keinginannya beriring sepeda bersama teman-teman. Kebahagiaan yg sederhana sekali, tapi anak ini tidak lelah mewujudkannya.

Aku selalu mencoba tersenyum menyambut misteri. Sedang dalam sel-sel otakku memutar dan mencerna keadaan. Sementara waktu berjalan, aku menikmati keadaan dengan merasakan kedamaian. Ini yg aku lihat dalam mencintai, baik buruk akan terasa menyenangkan jika dinikmati. Karena memang tidak ada yg sempurna dalam hidup. Sederhananya, lebih baik melihat pelangi daripada merutuki hujan yg sudah berlalu. Dengan sendirinya pakaian basah akan menjadi kering, tubuh yg lusuh akan terbasuh, amarah yg memuncak akan tercerna, jiwa gelisah akan tenang, tapi rugi jika semua itu tidak sempat dinikmati.

Jiwa yg gelisah memang tidak menyenangkan, tapi jangan membuat pilihan selain mencairkan yg sudah membeku. Meletupkan api dengan memberi kertas putih hanya akan menambah besarnya kobaran, sekalipun banyak yg berfikir kata maaf sama dengan kertas putih yang aku maksud.

Akhir malam akan menjadi hari baru. Memberi semangat dan inspirasi untuk mereka yg yakin akan kebaharuan. Aku tidak akan menunggu jawaban, biarlah semua pertanyaan akan terjawab dengan sendirinya. Atau alam akan menunjukkan jalan sendiri untuk menguak misteri, sederhananya : biduk tidak akan selalu terdampar ditengah samudera, suatu saat akan berlabuh atau tenggelam dalam kesunyian.

Yg maha cantik

Hanya ada satu
Perempuan yg maha cantik
Kau dipuja slalu dalam cinta yg bersemi
Kau mengendapkan lara, pelapang jenuh yang memuai
Ada bintang jatuh, sampai aku lupa berdoa tentangmu
Tuhan tau bahwa engkau selalu hadir dalam doa ditiap nafas
Hanya ada satu, perempuan paling manis dan dirindukan
Sementara biarlah waktu membuktikan kebenaran
Biarlah keadaan yg akan bercerita
Kita tau,
Hingga masa yg mungkin segera atau satu saat akan datang
Ada setumpuk cerita yg harus ditulis
Bersamamu dalam kertas putih tanpa relief dibagian pinggirnya

Anak Anak Ojek Payung

Pukul 23.42 WIB, hari ini tanggal 15 Juli 2014. Pelan-pelan kereta Progo yang saya tumpangi dari Yogyakarta berhenti di Stasiun Senen Jakarta. Diluar jendela, hujan deras menyambut. Hari ini saya memulai perjalanan mudik, untuk bisa bertemu keluarga pada lebaran tahun ini. Esok, saya menumpang sebuah maskapai penerbangan murah menuju Jambi.

Hujan masih turun, lebat. Atap seng Stasiun berisik diterpa hujan. Dibeberapa titik, lantai keramik Stasiun terlihat licin dan basah. Bangku-bangku yang biasa dipakai sebagai tempat menunggu penumpang kosong, stasiun memang telah sepi. Stasiun Senen melihatkan ornamen lama dengan gaya kolonial yang masih dipertahankan, jam dinding besar digantung di tiang stasiun. Ini memang gaya stasiun-stasiun kereta api di pulau Jawa.

Saya keluar mengikuti barisan penumpang lainnya. Stasiun ini cukup nyaman dan bersih. Diluar, hujan masih lebat. Ibu Kota memang tidak pernah tidur. Berbeda dengan suasana di ruang tunggu bagian dalam stasiun, keluar pintu stasiun saya langsung disambut puluhan orang yang menawarkan jasanya. Mulai dari tukang angkat (porter), penjaja makanan, tukang ojek, sopir bajai, hingga pengemudi taksi. Hujan yang datang ternyata membuka peluang bisnis jasa baru yaitu ; ojek payung.

Kejamnya Ibu Tiri tidak Sekejam Ibu Kota. Itu terlintas kembali dibenak saya menyaksikan puluhan anak yang masih mengais rezeki. Anak anak yang masih tersenyum itu, membuat saya meringis menyaksikannya di emper strasiun. Hujan telah membuat mereka hilang dari kehangatan keluarga, apalagi dari hangatnya selimut didalam kamar yang penuh pernik lucu. Anak anak ini masih mencari uang, dari berkah hujan bersama profesi mereka sebagai ojek payung.

Angin mengusik kulit, mulai terasa aroma dingin. Di lahan parkir, anak anak ini berjalan diantara hujan. Tubuh mereka kuyup. Malam dan hujan seperti tidak lagi terasa sebagai moment yang dapat memanjakan tubuh mereka diantara hangat keluarga. Bergantian, mondar mandir. Ada yang menghantarkan tamunya menuju kendaraan yang diparkir, ada juga yang kearah stasiun karena telah selesai menghantar tamunya pada kendaraan yang diparkir. Begitulah seterusnya siklus itu menjadi kenyataan, tontonan yang nyeri di tengah malam dengan hujan lebat di Ibu Kota.

Kehidupan telah merenggut segalanya. Tuntutan yang timbul akubat persaingan dalam hidup, persaingan untuk bisa terus bertahan, persaingan yang sengaja diciptakan demi mengikuti kerakusan, persaingan hidup yang mematikan. Banyak waktu direnggut, banyak cerita hilang hanya demi tuntutan yang bernama UANG. Entahlah, jika terbesit cerita asal muasal calon presiden kita Jokowi yang berasal dari anak desa dan hidup dalam keterbatasan. Apakah mungkin kelak diantara mereka, anak anak yang menjadi ojek payung ini akan menjadi salah satu pemimpin bangsa. Aku tidak lagi bisa membayangkan, mungkin memang inilah kenyataan yg sengaja diciptakan.

Bujangmelarat18