Tentang gelisah dan tanya

Aku tulis lagi satu cerita, tentang sejarah yg tak ingin aku lewatkan begitu saja. Mencintai dengan sederhana, karena itu yg aku mau dan harapkan. Tidak baiklah rasanya berlebihan menghadapi hidup yg masih jadi misteri. Ada banyak detail hidup yg menyenangkan jika dinikmati. Sekali lagi, sederhana saja. Proses demi proses setiap orang akan menjadi dirinya sendiri, akan tetapi orang beruntung adalah yg cepat menguasai dan menyadarinya.

Cerita selalu terikat dengan waktu dan obyek, meskipun kadang menjadi bagian dari tujuan.

Bicara tujuan, sedikit yg dapat membedakan tujuan dengan obsesi, seperti halnya orang-membedakan Visi dan Misi. Proses menjadikan tujuan beriring dengan tindakan. Sekali lagi yg mampu menyadari dengan sederhana adalah hati, logika adalah penyeimbang dan pengawal proses. Aku terlarut dalam memaknai itu semua. Mencoba menerka nilai-nilai dengan fakta yg ditemui. Menjalani dengan "rasa", menganalogikan skenario dengan perasaan, jalan yg dibukakan oleh waktu, dan akhir yg akan ditunjukkan oleh misteri dariNya.

Seperti seorang anak kecil dengan kepolosannya. Belajar mengayuh sepeda dan sering terjatuh. Menghayalkan kebahagiaan seperti yg didapat oleh teman bermainnya dipekarangan. Dan menceritakan pada Ibunda tentang keinginannya beriring sepeda bersama teman-teman. Kebahagiaan yg sederhana sekali, tapi anak ini tidak lelah mewujudkannya.

Aku selalu mencoba tersenyum menyambut misteri. Sedang dalam sel-sel otakku memutar dan mencerna keadaan. Sementara waktu berjalan, aku menikmati keadaan dengan merasakan kedamaian. Ini yg aku lihat dalam mencintai, baik buruk akan terasa menyenangkan jika dinikmati. Karena memang tidak ada yg sempurna dalam hidup. Sederhananya, lebih baik melihat pelangi daripada merutuki hujan yg sudah berlalu. Dengan sendirinya pakaian basah akan menjadi kering, tubuh yg lusuh akan terbasuh, amarah yg memuncak akan tercerna, jiwa gelisah akan tenang, tapi rugi jika semua itu tidak sempat dinikmati.

Jiwa yg gelisah memang tidak menyenangkan, tapi jangan membuat pilihan selain mencairkan yg sudah membeku. Meletupkan api dengan memberi kertas putih hanya akan menambah besarnya kobaran, sekalipun banyak yg berfikir kata maaf sama dengan kertas putih yang aku maksud.

Akhir malam akan menjadi hari baru. Memberi semangat dan inspirasi untuk mereka yg yakin akan kebaharuan. Aku tidak akan menunggu jawaban, biarlah semua pertanyaan akan terjawab dengan sendirinya. Atau alam akan menunjukkan jalan sendiri untuk menguak misteri, sederhananya : biduk tidak akan selalu terdampar ditengah samudera, suatu saat akan berlabuh atau tenggelam dalam kesunyian.

Yg maha cantik

Hanya ada satu
Perempuan yg maha cantik
Kau dipuja slalu dalam cinta yg bersemi
Kau mengendapkan lara, pelapang jenuh yang memuai
Ada bintang jatuh, sampai aku lupa berdoa tentangmu
Tuhan tau bahwa engkau selalu hadir dalam doa ditiap nafas
Hanya ada satu, perempuan paling manis dan dirindukan
Sementara biarlah waktu membuktikan kebenaran
Biarlah keadaan yg akan bercerita
Kita tau,
Hingga masa yg mungkin segera atau satu saat akan datang
Ada setumpuk cerita yg harus ditulis
Bersamamu dalam kertas putih tanpa relief dibagian pinggirnya

Anak Anak Ojek Payung

Pukul 23.42 WIB, hari ini tanggal 15 Juli 2014. Pelan-pelan kereta Progo yang saya tumpangi dari Yogyakarta berhenti di Stasiun Senen Jakarta. Diluar jendela, hujan deras menyambut. Hari ini saya memulai perjalanan mudik, untuk bisa bertemu keluarga pada lebaran tahun ini. Esok, saya menumpang sebuah maskapai penerbangan murah menuju Jambi.

Hujan masih turun, lebat. Atap seng Stasiun berisik diterpa hujan. Dibeberapa titik, lantai keramik Stasiun terlihat licin dan basah. Bangku-bangku yang biasa dipakai sebagai tempat menunggu penumpang kosong, stasiun memang telah sepi. Stasiun Senen melihatkan ornamen lama dengan gaya kolonial yang masih dipertahankan, jam dinding besar digantung di tiang stasiun. Ini memang gaya stasiun-stasiun kereta api di pulau Jawa.

Saya keluar mengikuti barisan penumpang lainnya. Stasiun ini cukup nyaman dan bersih. Diluar, hujan masih lebat. Ibu Kota memang tidak pernah tidur. Berbeda dengan suasana di ruang tunggu bagian dalam stasiun, keluar pintu stasiun saya langsung disambut puluhan orang yang menawarkan jasanya. Mulai dari tukang angkat (porter), penjaja makanan, tukang ojek, sopir bajai, hingga pengemudi taksi. Hujan yang datang ternyata membuka peluang bisnis jasa baru yaitu ; ojek payung.

Kejamnya Ibu Tiri tidak Sekejam Ibu Kota. Itu terlintas kembali dibenak saya menyaksikan puluhan anak yang masih mengais rezeki. Anak anak yang masih tersenyum itu, membuat saya meringis menyaksikannya di emper strasiun. Hujan telah membuat mereka hilang dari kehangatan keluarga, apalagi dari hangatnya selimut didalam kamar yang penuh pernik lucu. Anak anak ini masih mencari uang, dari berkah hujan bersama profesi mereka sebagai ojek payung.

Angin mengusik kulit, mulai terasa aroma dingin. Di lahan parkir, anak anak ini berjalan diantara hujan. Tubuh mereka kuyup. Malam dan hujan seperti tidak lagi terasa sebagai moment yang dapat memanjakan tubuh mereka diantara hangat keluarga. Bergantian, mondar mandir. Ada yang menghantarkan tamunya menuju kendaraan yang diparkir, ada juga yang kearah stasiun karena telah selesai menghantar tamunya pada kendaraan yang diparkir. Begitulah seterusnya siklus itu menjadi kenyataan, tontonan yang nyeri di tengah malam dengan hujan lebat di Ibu Kota.

Kehidupan telah merenggut segalanya. Tuntutan yang timbul akubat persaingan dalam hidup, persaingan untuk bisa terus bertahan, persaingan yang sengaja diciptakan demi mengikuti kerakusan, persaingan hidup yang mematikan. Banyak waktu direnggut, banyak cerita hilang hanya demi tuntutan yang bernama UANG. Entahlah, jika terbesit cerita asal muasal calon presiden kita Jokowi yang berasal dari anak desa dan hidup dalam keterbatasan. Apakah mungkin kelak diantara mereka, anak anak yang menjadi ojek payung ini akan menjadi salah satu pemimpin bangsa. Aku tidak lagi bisa membayangkan, mungkin memang inilah kenyataan yg sengaja diciptakan.

Bujangmelarat18

Surat Berhenti Golput

Lama saya tidak menulis di blog ini. Sejak beberapa minggu yang lalu telah terlintas niat untuk menulis, namun saya tunda karena tidak ingin dinilai memihak.

Gempita pesta demokrasi pemilihan presiden tahun 2014 dalam memilih presiden rasanya telah memberi banyak pelajaran politik, untuk saya pesta rakyat kali ini adalah pelajaran paling berkesan tentang demokrasi yang berlangsung sangat terbuka. Dengan sajian yang menyenangkan, dukungan relawan yang kreatif, dan bumbu-bumbu pemberitaan yang tendensius ; membuat pemilihan presiden kali ini lebih menarik.

Dulu saya adalah bagian yang apatis dengan politik. Dalam perjalanannya, saya ternyata tidak sendiri. Jutaan orang di Republik ini menamakan golongan seperti saya sebagai Golongan Putih (GOLPUT). Bukan tanpa alasan, selama ini saya tidak melihat pemilu sebagai pesta rakyat, tidak melihat perannya dalam menentukan nasib bangsa dengan aktor dan wadah dari golongan itu-itu saja.

Demokrasi di Indonesia saya rasakan telah banyak memberi hutang budi. Kita dengan bebas berkarya, menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, hingga menentukan sikap. Dengan itu semua saya merasa perlu untuk berubah, menentukan pilihan dan terlibat dalam pemilihan presiden kali ini. Tidak banyak memang yang bisa saya lakukan untuk terlibat dalam pemilihan presiden kali ini. Jika dibandingkan dengan teman-teman, saya yakin kita semua telah melakukan dan memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Saya berharap, apapun yang terjadi pada waktu yang akan datang menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik. Dapat mewujudkan semua cita-cita para pejuang dan pendiri bangsa. Memberikan penyamaan hak pada orang-orang yang selama ini termarjinalkan, baik di kota-kota hingga di pelosok-pelosok negeri ini.

Kali ini saya tidak ingin berdiam diri. Pilihan yang ada sudah cukup mampu dan saya anggap berhasil menggerakkan nurani untuk ikut terlibat. Saya meyakini, kita semua telah memiliki pilihan masing-masing yang kita percaya pantas untuk menentukan nasib bangsa Indonesia minimal 5 tahun kedepan atau bahkan berdampak pada sejarah panjang bangsa ini.

Saya percaya kebaikan akan selalu ada pada tempat tertinggi. Saya berpendapat bahwa memilih presiden sama dengan memilih pemimpin yang akan membawa, memimpin pembangunan, mengayomi, dan menuntun kita semua pada kehidupan berbangsa untuk waktu yang akan datang. Maka pilihan akan kita jatuhkan pada mereka yang kita nilai pantas untuk menjadi pemimpin yang baik tersebut. Kita memiliki harapan untuk masa depan, dengan keragaman pada bangsa kita. Setiap keragaman yang ada adalah kekayaan yang patut kita hargai dan kita jaga. Keadilan dan kedamaian harus kita tuntut pada mereka yang selama ini telah membangun benteng pembatas.

Maka untuk kita yang selama ini apatis, tidak percaya pada kongkalikong elit perpolitikan, mungkin ini adalah monent dimana harapan ada dihadapan kita. Setidaknya ada tawaran baru dalam pelajaran politik yang disampaikan oleh masing-masing calon pemimpin kita. Jika memilih adalah salah satu jalan untuk mewujudkan negara yang lebih baik lagi, membantu orang yang kita anggap baik untuk menjadi kemudi bangsa kita kedepan adalah cara kita berubah dari pilihan Golput.

Hiruk pikuk pesta demokrasi hampir kita akhiri. Timeline Facebook, Twitter, dan media lainnya pasti akan menyajikan informasi yang berbeda lagi. Energi, ide, dan pendapat yang telah dikeluarkan pada masa sebelum pemilu presiden tahun ini memberi rasa rindu tersendiri. Dalam hari-hari terakhir sebelum pemilu ini, hanya doa yang bisa dipanjatkan untuk kebaikan hasil yang akan kita capai. Dibalik itu semua, pemilu presiden kali ini memberi kesempatan untuk saya merasakan kembali ada rasa optimis yang timbul, ada harapan baru yang menelisik semangat untuk diperjuangkan. Saya melihat kita semua telah dengan sengaja atau tidak sengaja terlibat, telah menunjukkan bahwa kita peduli dan kecintaan pada Indonesia selalu ada.

Perbedaan pilihan adalah hak yang sangat saya hargai. Biarlah perbedaan pilihan dalam masing-masing kita menjadi corak "batik" yang akan menjadi kebanggaan bangsa kita. Semoga Presiden baru kita adalah tokoh yang benar-benar mencintai rakyat pada semua kalangan, membawa kedamaian, menjadi tauladan yang baik, mencintai lingkungan, menghargai keragaman, dan mewujudkan bagsa kita jauh lebih baik lagi.

Akhirnya, esok kita harus berbondong mewujudkan doa yang selalu kita panjatkan. Menyerahkan sepenuhnya harapan pada sosok yang kita percaya sebagai pemimpin bangsa. Menyampaikan amanah, mengingatkan kembali lewat mandat yang kita berikan bahwa negara ini kita titipkan pada pundak calon presiden yang kita pilih.

Damai selalu negaraku.
(8 Juli 2014)

Salam.

Desa Logika (Barometer Pemilu) ; Tentang rakyat, calon pemimpin, dan media

Cerita pada sebuah desa yang berada di pinggir Sungai Lubuk Lais, dikepung hijau dan rimbun hutan. Desa itu  adalah desa tempat dulu aku hidup, Desa Logika.

Di Desa Logika, penduduknya berjumlah sekitar 100 kepala keluarga. Kehidupan di desa yang belum tersentuh program Keluarga Berencana (KB), rata-rata satu keluarga memiliki lebih dari 5 orang anak. Setiap anak dan anggota keluarga lainnya tidak berperilaku seolah satu keluarga, hidup dengan keterbatasan setiap hari membuat kompetisi terjadi bahkan sampai taraf terkecil : antar anggota keluarga.

Bulan April 2000, negara Endonesyah menjalani pesta negara, disebut oleh rakyat Desa Logika sebagai Pesta Rakyat. Pesta Rakyat dimaknai sebagai sebuah momentum dimana rakyat merayakan kemerdekaan mereka dalam menghimpun pundi-pundi uang. Mayoritas pemuda desa adalah pengangguran, mendapat pekerjaan sebagai calo tiap calon anggota parlemen yang berambisi kekuasaan. Dari lima anggota keluarga, bisa memiliki lima partai yang berbeda. Satu orang, satu partai. 

Suatu hari, 3 orang pemuda kampung dengan gagahnya pulang Rapat Koordinasi Partai Kucing di Ibu Kota Negara. Mendadak gaya berpakaian mereka berubah, sepasang pantofel lengkap dengan celana kain dan kemeja yang dimasukkan. Waktu berkumpul main domino, mereka berbicara tentang perubahan dan kesalahan haluan negara. Saat di surau, mendadak mereka menjadi penceramah setelah Sholat Magrib. Saat ada warga yang meninggal, mendadak mereka menjadi pribadi yang santun. Dengan penampilan yang dibuat seolah sebagai intelektual muda, mereka melakukan banyak manufer perubahan yang tidak dibutuhkan di kampungnya. Semua menjadi aneh dan memancing manufer lain dari semua pendukung partai yang berbeda-beda.

Desa Logika berubah menjadi desa intelektual. Dimana-mana setiap malam berkumpul massa yang berdiskusi. Berdiskusi tentang konsep menangkap ikan yang baik, konsep membuat pembukuan desa yang baik, berdiskusi tentang pembatasan populasi warga, berdiskusi tentang inventarisasi kayu di hutan mereka, berdiskusi tentang upaya membangun lapangan pekerjaan, berdiskusi tentang taraf pendidikan, sering juga berdiskusi tentang anak petani yang masih perawan. Kampung menjadi sangat ideal dalam penerapan sebuah konsep negara demokrasi, itu menjelang pemilu April tahun 2000.

Waktu kampanye tiba, semua orang berkeinginan mendukung tokoh yang diunggulkan. Poster, spanduk, kartu nama, foto orang tua, visi dan misi, lambang partai, kaos warna partai, sampai buku tulis siswa dipenuhi oleh kemeriahan pemilu. Desa Logika tidak ketinggalan. Setiap hari selalu ada acara keramaian di lapangan depan balai desa. Setiap malam, pelacur mendapat pekerjaan yang rutin karena dipastikan akan melayani dan menjadi penghilang penat para kader partai yang siangnya telah berkampanye. Dengan kedok konsolidasi dan rapat tim sukses, sekretariat partai-partai di Desa Logika menjadi base-camp baru untuk pelacur yang sengaja dipakaikan pakaian ala pemenangan partai dan dimasukkan dalam daftar tim sukses. Istri-istri dengan bangga bercerita pada keluarga dan dalam arisan bahwa suaminya adalah tokoh di partai dan setiap malam selalu rapat disekretariat.

Tugas ketua RT semakin berat menjelang pemilu. Tidak sedikit rumah warganya yang bertikai akibat anggota keluarga memiliki pandangan politik yang berbeda. Belum lagi ditambah tugas menyebar uang dari peserta pemilu. Setiap warga sudah enggan  bekerja sejak musim kampanye datang, setiap pagi selalu ada tim sukses yang datang menghantar uang dengan pesan "pilih tuan *** dengan nomor urut ** partai **". 

Tibalah masanya pemilu dilangsungkan. Kertas suara berisi 60 foto calon legislatif dengan latar sesuai warna dasar partai masing-masing. Warga enggan untuk datang ke lokasi pemilihan suara. Para tim sukses dan para pelacur yang sengaja diminta untuk meramaikan tempat pemilu kebingungan. Tidak ada satupun warga yang datang sampai hampir tengah hari. Satu jam lagi waktu pencoblosan akan berakhir namun kotak suara belum terisi sama sekali. Tim sukses mulai resah, bingung, dan takut. Sudah pasti jika tidak ada suara yang masuk maka tidak akan mungkin jagoannya menjadi pemenang. Ini adalah hal gawat. Dengan inisiatif dan kebijaksanaannya, Kepala Desa pergi bersama salah seorang ketua RT menuju surau. Pengeras suara dinyalakan dan diumumkan kepada seluruh penghuni Desa Logika untuk segera menuju tempat pemilu. 

Setengah jam setelah pengumuman belum tampak adanya warga yang datang ke lokasi pemilu. Tim Sukses dan para Pejabat Desa bertambah resah. Beberapa handphone tim sukses mulai sibuk dengan pertanyaan dari para calon legislatif yang menanyakan suara yang Ia dapat. Hansip, Panwaslu, Bawaslu, Kepala Desa, dan Seluruh ketua RT memohon izin untuk mencoba berkeliling kampung. Tinggallah tempat pemilu dihuni oleh tim sukses dan pelacur yang tercatat sebagai kader. Sampai akhir batas waktu pemilu, tidak satu orang-pun dari perangkat desa tersebut yang datang kembali ke lokasi pemilu. Ternyata mereka telah pulang ke rumah masing-masing. 

Satu hari setelah pemilu di jalankan. Nama Desa Logika mendadak terkenal, desa ini menjadi liputan media cetak dan televisi. Wartawan berdatangan dan warga-warga banyak yang diwawancara. Dalam sekejap, Desa Logika menjadi sorotan publik lokal hingga nasional. Ada yang menarik dari pemberitaan media terhadap Desa Logika. Desa Logika dinilai sebagai contoh desa yang telah cerdas dan menerapkan demokrasi secara penuh. Semua warga tidak memilih karena memang menjadi bagian dari tindakan protes terhadap semua calon wakil rakyat yang telah menjalankan praktek politik uang. Dalam pemberitaan juga disampaikan bahwa warga enggan menggunakan hak suaranya karena tidak percaya kepada para warga kepada wakil rakyat yang dinilai tidak memiliki etika. 

Desa Logika menjadi cermin demokrasi nasional. Semua media mengapresiasi komitmen yang tegas dari semua warga. Aku sendiri melihat keanehan dari semua yang diberitakan. Kekuatan apa sebenarnya yang menutupi kebenaran yang harganya semakin mahal? Siapa yang cerdas dan siapa yang berkuasa terhadap isu? Siapa yang akhirnya menjadi pemenang dan dipecundangi? Rakyat, para calon pemimpin, atau media yang menjadi pemenang? Menurutku, yang menjadi pemenang adalah Golput. Ya, Golput yang berhasil menjadi pemenang di Desa Logika. Itulah desa itu akhirnya terkenal, dikenal, dan abadi menjadi barometer politik nasional sebagai Desa Logika.

(Sebuah Fiksi)