Ada yang hilang

Ada yang hilang
Dari perjalanan gelap nan terjal
Segurat cahaya yang sebenarnya ada
Menemani dingin
Menhabiskan malam
Menembus kabut
Melewati duka
Menuju bahagia

Aku sendiri lupa
Tersadar, bahwa ada yang tertinggal

Angin masih sama, cara aku menikmatinya berbeda
Cinta yang begitu anggun
Menjelma menjadi biasa
Hanya oleh debu
Hanya demi melewati batu
Bekal digerogiti ambisi
Kehidupan dibayangi mimpi
Nyatanya, tuhan ciptakan pelangi di saat datangnya hujan

Kabut datang pelan-pelan
Meneriakiku
Menertawakanku
Aku yang lupa
Cinta lebih dari semuanya
Membayang sosok bidadari mematung dengan tatap menghujam
Melintas sosok kokoh merengut menatapku
Terkesima dengan nyata
Aku melewati kelembutan kasih sayang
Hanya bergelut dengan kehidupan yang membatu

Aku melewatinya
Seperti ada yang hilang

Kereta yang menanti

Pagi Jogja, sisa subuh masih terhambur jelas. Orang orang masih bersarung, pulang dari mushola berjalan atau naik sepeda. Permasalahanku dari dulu adalah susah bangun pagi, sehingga jarang aku temui keadaan Jogja yang seperti ini. Kalau bukan urusan tiket yang keberangkatannya pukul 06.45 WIB, mungkin aku masih santai atau meringkuk di bawah selimut.

Jalan Kaliurang pagi mulai ramai, ekspansi bisnis sarapan pagi mulai menggeliat di daerah ini. Gudeg, soto, nasi kuning, nasi rames, dll menghiasi jalanan yang mulai ramai, seperti gadis muda yg habis putus dan mulai ada yang PDKT lagi.

Di utara, merapi yang biasa megah tidak terlihat. Kabut masih cukup tebal rupanya, meskipun musim sudah jarang mendatangkan hujan. Aku memarkirkan kendaraan di parkir barat stasiun. Di sebelah timur, terpampang jelas dengan cahaya keemasan. Matahari pagi ini terasa begitu hangat, mungkin karena masih pagi.

Kereta yang menanti

Tidak seperti biasa, sesaat ketika masuk stasiun aku sudah langsung bisa masuk kereta. Belakangan ini, setiap bepergian jarang sekali aku mendapati hal seperti ini. Kereta yang menanti, berdiri membujur diatas bentangan rel. Memanjang, dengan barisan terdepan menghadap timur, tempat matahari keemasan itu baru muncul. Biasanya, aku harus menunggu dan menghabiskan waktu yang membosankan di ruang tunggu. Menunggu kereta, bus, atau pesawat datang.

Kereta benarlah selalu romantis, entah apa yang ada di benak orang orang yang menciptakan moda transportasi ini. Detail yang ada dikonsep seperti tools pengingat masa lalu. Stasiun yang kekunoan, rel yang tak putus, jalur yang melewati desa desa, atau ritual ritual sebelum memberangkatkan kereta seperti peluit panjang, klakson kereta. Kereta api yang gagal move on dari kekunoan, tapi mampu beradaptasi dengan kemajuan sistem menejemen.



Nostalgia imaji

Tahun 2007, bobot badanku tidak lebih dari 50 Kg. Aku baru lulus SMA di akhir bulan Juni ketika itu. Belum mengenal laptop, apalagi internet. Belum mengenal kartu ATM, apalagi internet banking. Aku hanya mengenal Pulau Jawa dari buku-buku bacaan sekolah, belum tau sehebat apa peradaban yang ada di sana.
Waktu berjalan memang lamban, tapi membuat kita bosan untuk menghitung dan membuat kita terbuai saat menjalani. Tak terasa, ternyata aku sudah meninggalkan tanah kelahiran di pulau seberang selama hampir 9 tahun lamanya. Sebuah akumulasi waktu yang sangat panjang, aku seperti terlena dalam rasa frustasi ketika menghitung berapa banyak moment yg sudah aku jalani. Waktu yang tidak sebentar itu menghantarkan banyak sekali cerita, banyak sekali perubahan dalam hidup. Tentang mimpi, cita cita, atau angan yang kandas, dan semua yang sudah dapat dicapai. Semua kejadian itu larut dalam catatan yang dilakoni oleh banyak aktor yang saling berbeda, latar yang berbeda, dan cara yang berbeda.
Perlu kesabaran dan ketekunan ekstra keras untuk bisa mengurai setiap fragmen cerita jika ingin ditulis dalam sebuah catatan lengkap, aku sendiri masih memiliki rasa ingin untuk dapat mengumpulkannya. Kadang jika ditulis, timbul rasa takut jika ada moment yang terlupa dan aktor aktor yang juga terlupa. Memang benar, kadang kita harus menulis catatan di tiap perjalanan hidup agar tidak menjadi akumulasi imaji saat hanya bisa mengenang. Lebih ironi lagi, sebagian cerita kadang terfragmen dalam ingatan yang tidak lengkap, ngawang, tidak jelas lagi, dan sering terlupa.
Tentang kawan kawan yang aku rindukan
Dalam keadaan saat ini, lengkap dengan hiruk pikuk cara masyarakat kota bekerja dan bertahan hidup, aku merasa makin terasing dalam sebuah entitas kemapanan yang aku saksikan. Setiap orang di ciptakan sesuai dengan program yang di install dalam otaknya, menuju tujuan akhir dari sebuah konsep, mereka sering menyebut target.
Apa itu entitas kemapanan versi bujangmelarat18? Gini, pemahaman tentang tujuan dari kemapanan, bukan terletak pada jumlah dan volume, melainkan pada nilai nilai. Kadang hal kecil yang menjadi esensi sebuah haluan akan mengakibatkan manfaat besar. Siapa yang mengira, sebuah kapal besar dapat di rubah haluannya oleh sebuah kemudi yang kecil? Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita mengetahui kemudi, kapan akan diarahkan ke kanan dan kapan akan diarahkan ke sebelah kiri. Kapan akan mendayung dengan kencang, kapan kita akan mengalir mengikuti angin. Sampai di tahap itu, entitas kemapanan yang aku maksud mungkin baru bisa terdefinisikan.
Ditengah hiruk pikuk kota yang ramah ini, aku merindukan sosok sosok lugu para sahabat lama. Kami pernah memiliki mimpi sederhana, memperjuangkannya, sampai akhirnya kami berhasil meraih tujuan.
Manusia manusia yang hidup dalam mimpi, mimpi mimpi yang sengaja tidak di bendung batasannya agar dapat dinikmati sebagai sebuah nilai estetik, mimpi yang untuk mencapainya selalu timbul rasa ingin dan rasa penasaran yang besar, mimpi yang akhirnya tumbuh menjadi energi energi besar yang tidak kenal lelah, mimpi yang menjadikan waktu terasa begitu cepat dan gampang untuk menghitungnya, mimpi yang tidak kami tukarkan dengan angka angka rupiah.
Hukum alam memang akan merubah malam menjadi siang, waktu yang berjalan terus menerus bisa menggerus bahkan menumbuhkan. Kita yang tau, menjalani dalam memimpin biduk dengan kemudi. Seperti salah satu segmen cerita tentang kawan kawan ini, aku ibaratkan pada ceritaku yang memang sedang rindu dengan kawan kawan Jurasix's di Muara Tebo. Semoga kalian selalu sehat.
Kami pernah memiliki mimpi yang sama, kebetulan ketika itu tentang hobi bermain musik. Sadar akan kemampuan kami yang terbatas, kami akhirnya saling mengajari dan giat berlatih. Setiap hari selalu bermain musik, bercengkerama bersama, belajar, sekolah, bahkan setiap malam nongkrong bersama. Kemajuan demi kemajuan dicapai, hingga kami mengikuti beberapa festival musik di daerah. Sejak awal kami selalu sadar, bahwa kami mungkin tidak akan pernah menjadi pemain musik yang terhebat, tapi kami yakin bahwa kami telah melakukan upaya terhebat yang bisa kami lakukan. Hingga akhirnya, musik bukan menjadi alasan kami lagi untuk bisa tumbuh dan hidup. Pertengahan tahun 2007 ketika kami semua harus mengakhiri permainan musik dan menjalani hidup masing masing akibat kuliah.
Itulah mengapa entitas kemapanan perlu aku pelajari. Bahwa memiliki dan memupuk mimpi itu sangat penting. Bukan pada jumlah atau volume, tapi nilai nilai. Jurasixs memang tidak menjadi sebuah group musik besar dan mendunia, tapi dengan keterbatasan yang kami miliki kami telah berhasil membangun nilai nilai besar dalam diri kami masing masing. Nilai nilai yang ternyata akhirnya memberi pandangan besar bagi orang orang yang ada dan pernah mengenal jurasixs. Nilai nilai yang hingga saat ini masih selalu tumbuh dan dirindukan, teselaikan ketika kami bernyanyi bersama saat mendapat kesempatan bermain musik bersama lagi setiap pulang ke kampung halaman.
Mungkin kekakuan cara pandang kita semua terhadap teori teori telah menjebak banyak orang dalam era sistematisasi yang profesional dan komprehensif (pfffttttttt). Menjadikan nilai nilai yang tadinya sangat artistik, menggairahkan, dan penuh energi menjadi butir butir pasal atau pedoman yang kaku. Menjadikan sebentuk aplikasi yang siap bekerja sesuai dengan tujuan, dimainkan oleh operator yang mungkin handal atau pura pura handal, sampai berhenti karena merasa bosan atau sudah saatnya untuk berhenti.
Jika ini semua di jadikan mimpi, kita selalu berbahagia karena setelah selesai bermimpi sudah pasti kita dalam keadaan terbangun. Andai

Aku, sudah tidak lagi aku temukan

Ada pagi yg datang, aku lewati
Ada malam yg hilang, aku cari
Senja yg datang hanya sebentar, selalu di nanti
Aku melupakan kau
Yang lekang
Ada di sebelahku

Seperti transparan yg tak berbayang
Apakah aku tetap hidup!
Jiwa sendiri hilang
Aku kehilanganmu, pelengkap adanya dunia
Kau menjelma, menjadi api
Menakuti, tapi kau enggan menghanguskanku
Terjebak dalam bara dan asap
Seperti hendak mati dari duniaku
Kupu enggan datang, khayal larut dalam kebingungan
Aku ingin terus melukis dunia, dengan karya dan liar fikiran
Tapi akun telah dihapuskan
Aku telah terkalahkan

Ada senyum sederhana
Memeluk buku, menggenggam pensil disebelahnya
Tersenyum, itu saja tanpa bersuara
Ia menertawakanku,
Aku tertunduk, dia mengenali bahwa aku telah hilang
Ia mengerti, bahwa aku sudah tidak lagi aku temukan

menemukan

kau tak perlu menjadi siapapun
telah banyak yang kau pelajari
telah banyak yang kau datangi
telah banyak yang kau lihat
telah banyak yang menasehatimu
telah banyak yang kau lakukan
telah banyak catatan yang kau baca
telah banyak ayat-ayat yang kau kaji
telah banyak tangisan yang kau sembuhkan

untuk itu semua
'tak perlu kau bicara bahwa kau masih mendera kebingungan
'tak layak pula kau melihat banyak yang lebih sempurna
membandingkan adalah cara mengukur karyaNya
keagungan dan kebesaran tidak ditemukan atas dasar ukuran
kembalilah pada fitrah, semua orang akan menemukan

April 2016