Anak Anak Ojek Payung

Pukul 23.42 WIB, hari ini tanggal 15 Juli 2014. Pelan-pelan kereta Progo yang saya tumpangi dari Yogyakarta berhenti di Stasiun Senen Jakarta. Diluar jendela, hujan deras menyambut. Hari ini saya memulai perjalanan mudik, untuk bisa bertemu keluarga pada lebaran tahun ini. Esok, saya menumpang sebuah maskapai penerbangan murah menuju Jambi.

Hujan masih turun, lebat. Atap seng Stasiun berisik diterpa hujan. Dibeberapa titik, lantai keramik Stasiun terlihat licin dan basah. Bangku-bangku yang biasa dipakai sebagai tempat menunggu penumpang kosong, stasiun memang telah sepi. Stasiun Senen melihatkan ornamen lama dengan gaya kolonial yang masih dipertahankan, jam dinding besar digantung di tiang stasiun. Ini memang gaya stasiun-stasiun kereta api di pulau Jawa.

Saya keluar mengikuti barisan penumpang lainnya. Stasiun ini cukup nyaman dan bersih. Diluar, hujan masih lebat. Ibu Kota memang tidak pernah tidur. Berbeda dengan suasana di ruang tunggu bagian dalam stasiun, keluar pintu stasiun saya langsung disambut puluhan orang yang menawarkan jasanya. Mulai dari tukang angkat (porter), penjaja makanan, tukang ojek, sopir bajai, hingga pengemudi taksi. Hujan yang datang ternyata membuka peluang bisnis jasa baru yaitu ; ojek payung.

Kejamnya Ibu Tiri tidak Sekejam Ibu Kota. Itu terlintas kembali dibenak saya menyaksikan puluhan anak yang masih mengais rezeki. Anak anak yang masih tersenyum itu, membuat saya meringis menyaksikannya di emper strasiun. Hujan telah membuat mereka hilang dari kehangatan keluarga, apalagi dari hangatnya selimut didalam kamar yang penuh pernik lucu. Anak anak ini masih mencari uang, dari berkah hujan bersama profesi mereka sebagai ojek payung.

Angin mengusik kulit, mulai terasa aroma dingin. Di lahan parkir, anak anak ini berjalan diantara hujan. Tubuh mereka kuyup. Malam dan hujan seperti tidak lagi terasa sebagai moment yang dapat memanjakan tubuh mereka diantara hangat keluarga. Bergantian, mondar mandir. Ada yang menghantarkan tamunya menuju kendaraan yang diparkir, ada juga yang kearah stasiun karena telah selesai menghantar tamunya pada kendaraan yang diparkir. Begitulah seterusnya siklus itu menjadi kenyataan, tontonan yang nyeri di tengah malam dengan hujan lebat di Ibu Kota.

Kehidupan telah merenggut segalanya. Tuntutan yang timbul akubat persaingan dalam hidup, persaingan untuk bisa terus bertahan, persaingan yang sengaja diciptakan demi mengikuti kerakusan, persaingan hidup yang mematikan. Banyak waktu direnggut, banyak cerita hilang hanya demi tuntutan yang bernama UANG. Entahlah, jika terbesit cerita asal muasal calon presiden kita Jokowi yang berasal dari anak desa dan hidup dalam keterbatasan. Apakah mungkin kelak diantara mereka, anak anak yang menjadi ojek payung ini akan menjadi salah satu pemimpin bangsa. Aku tidak lagi bisa membayangkan, mungkin memang inilah kenyataan yg sengaja diciptakan.

Bujangmelarat18

Surat Berhenti Golput

Lama saya tidak menulis di blog ini. Sejak beberapa minggu yang lalu telah terlintas niat untuk menulis, namun saya tunda karena tidak ingin dinilai memihak.

Gempita pesta demokrasi pemilihan presiden tahun 2014 dalam memilih presiden rasanya telah memberi banyak pelajaran politik, untuk saya pesta rakyat kali ini adalah pelajaran paling berkesan tentang demokrasi yang berlangsung sangat terbuka. Dengan sajian yang menyenangkan, dukungan relawan yang kreatif, dan bumbu-bumbu pemberitaan yang tendensius ; membuat pemilihan presiden kali ini lebih menarik.

Dulu saya adalah bagian yang apatis dengan politik. Dalam perjalanannya, saya ternyata tidak sendiri. Jutaan orang di Republik ini menamakan golongan seperti saya sebagai Golongan Putih (GOLPUT). Bukan tanpa alasan, selama ini saya tidak melihat pemilu sebagai pesta rakyat, tidak melihat perannya dalam menentukan nasib bangsa dengan aktor dan wadah dari golongan itu-itu saja.

Demokrasi di Indonesia saya rasakan telah banyak memberi hutang budi. Kita dengan bebas berkarya, menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, hingga menentukan sikap. Dengan itu semua saya merasa perlu untuk berubah, menentukan pilihan dan terlibat dalam pemilihan presiden kali ini. Tidak banyak memang yang bisa saya lakukan untuk terlibat dalam pemilihan presiden kali ini. Jika dibandingkan dengan teman-teman, saya yakin kita semua telah melakukan dan memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Saya berharap, apapun yang terjadi pada waktu yang akan datang menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik. Dapat mewujudkan semua cita-cita para pejuang dan pendiri bangsa. Memberikan penyamaan hak pada orang-orang yang selama ini termarjinalkan, baik di kota-kota hingga di pelosok-pelosok negeri ini.

Kali ini saya tidak ingin berdiam diri. Pilihan yang ada sudah cukup mampu dan saya anggap berhasil menggerakkan nurani untuk ikut terlibat. Saya meyakini, kita semua telah memiliki pilihan masing-masing yang kita percaya pantas untuk menentukan nasib bangsa Indonesia minimal 5 tahun kedepan atau bahkan berdampak pada sejarah panjang bangsa ini.

Saya percaya kebaikan akan selalu ada pada tempat tertinggi. Saya berpendapat bahwa memilih presiden sama dengan memilih pemimpin yang akan membawa, memimpin pembangunan, mengayomi, dan menuntun kita semua pada kehidupan berbangsa untuk waktu yang akan datang. Maka pilihan akan kita jatuhkan pada mereka yang kita nilai pantas untuk menjadi pemimpin yang baik tersebut. Kita memiliki harapan untuk masa depan, dengan keragaman pada bangsa kita. Setiap keragaman yang ada adalah kekayaan yang patut kita hargai dan kita jaga. Keadilan dan kedamaian harus kita tuntut pada mereka yang selama ini telah membangun benteng pembatas.

Maka untuk kita yang selama ini apatis, tidak percaya pada kongkalikong elit perpolitikan, mungkin ini adalah monent dimana harapan ada dihadapan kita. Setidaknya ada tawaran baru dalam pelajaran politik yang disampaikan oleh masing-masing calon pemimpin kita. Jika memilih adalah salah satu jalan untuk mewujudkan negara yang lebih baik lagi, membantu orang yang kita anggap baik untuk menjadi kemudi bangsa kita kedepan adalah cara kita berubah dari pilihan Golput.

Hiruk pikuk pesta demokrasi hampir kita akhiri. Timeline Facebook, Twitter, dan media lainnya pasti akan menyajikan informasi yang berbeda lagi. Energi, ide, dan pendapat yang telah dikeluarkan pada masa sebelum pemilu presiden tahun ini memberi rasa rindu tersendiri. Dalam hari-hari terakhir sebelum pemilu ini, hanya doa yang bisa dipanjatkan untuk kebaikan hasil yang akan kita capai. Dibalik itu semua, pemilu presiden kali ini memberi kesempatan untuk saya merasakan kembali ada rasa optimis yang timbul, ada harapan baru yang menelisik semangat untuk diperjuangkan. Saya melihat kita semua telah dengan sengaja atau tidak sengaja terlibat, telah menunjukkan bahwa kita peduli dan kecintaan pada Indonesia selalu ada.

Perbedaan pilihan adalah hak yang sangat saya hargai. Biarlah perbedaan pilihan dalam masing-masing kita menjadi corak "batik" yang akan menjadi kebanggaan bangsa kita. Semoga Presiden baru kita adalah tokoh yang benar-benar mencintai rakyat pada semua kalangan, membawa kedamaian, menjadi tauladan yang baik, mencintai lingkungan, menghargai keragaman, dan mewujudkan bagsa kita jauh lebih baik lagi.

Akhirnya, esok kita harus berbondong mewujudkan doa yang selalu kita panjatkan. Menyerahkan sepenuhnya harapan pada sosok yang kita percaya sebagai pemimpin bangsa. Menyampaikan amanah, mengingatkan kembali lewat mandat yang kita berikan bahwa negara ini kita titipkan pada pundak calon presiden yang kita pilih.

Damai selalu negaraku.
(8 Juli 2014)

Salam.

Desa Logika (Barometer Pemilu) ; Tentang rakyat, calon pemimpin, dan media

Cerita pada sebuah desa yang berada di pinggir Sungai Lubuk Lais, dikepung hijau dan rimbun hutan. Desa itu  adalah desa tempat dulu aku hidup, Desa Logika.

Di Desa Logika, penduduknya berjumlah sekitar 100 kepala keluarga. Kehidupan di desa yang belum tersentuh program Keluarga Berencana (KB), rata-rata satu keluarga memiliki lebih dari 5 orang anak. Setiap anak dan anggota keluarga lainnya tidak berperilaku seolah satu keluarga, hidup dengan keterbatasan setiap hari membuat kompetisi terjadi bahkan sampai taraf terkecil : antar anggota keluarga.

Bulan April 2000, negara Endonesyah menjalani pesta negara, disebut oleh rakyat Desa Logika sebagai Pesta Rakyat. Pesta Rakyat dimaknai sebagai sebuah momentum dimana rakyat merayakan kemerdekaan mereka dalam menghimpun pundi-pundi uang. Mayoritas pemuda desa adalah pengangguran, mendapat pekerjaan sebagai calo tiap calon anggota parlemen yang berambisi kekuasaan. Dari lima anggota keluarga, bisa memiliki lima partai yang berbeda. Satu orang, satu partai. 

Suatu hari, 3 orang pemuda kampung dengan gagahnya pulang Rapat Koordinasi Partai Kucing di Ibu Kota Negara. Mendadak gaya berpakaian mereka berubah, sepasang pantofel lengkap dengan celana kain dan kemeja yang dimasukkan. Waktu berkumpul main domino, mereka berbicara tentang perubahan dan kesalahan haluan negara. Saat di surau, mendadak mereka menjadi penceramah setelah Sholat Magrib. Saat ada warga yang meninggal, mendadak mereka menjadi pribadi yang santun. Dengan penampilan yang dibuat seolah sebagai intelektual muda, mereka melakukan banyak manufer perubahan yang tidak dibutuhkan di kampungnya. Semua menjadi aneh dan memancing manufer lain dari semua pendukung partai yang berbeda-beda.

Desa Logika berubah menjadi desa intelektual. Dimana-mana setiap malam berkumpul massa yang berdiskusi. Berdiskusi tentang konsep menangkap ikan yang baik, konsep membuat pembukuan desa yang baik, berdiskusi tentang pembatasan populasi warga, berdiskusi tentang inventarisasi kayu di hutan mereka, berdiskusi tentang upaya membangun lapangan pekerjaan, berdiskusi tentang taraf pendidikan, sering juga berdiskusi tentang anak petani yang masih perawan. Kampung menjadi sangat ideal dalam penerapan sebuah konsep negara demokrasi, itu menjelang pemilu April tahun 2000.

Waktu kampanye tiba, semua orang berkeinginan mendukung tokoh yang diunggulkan. Poster, spanduk, kartu nama, foto orang tua, visi dan misi, lambang partai, kaos warna partai, sampai buku tulis siswa dipenuhi oleh kemeriahan pemilu. Desa Logika tidak ketinggalan. Setiap hari selalu ada acara keramaian di lapangan depan balai desa. Setiap malam, pelacur mendapat pekerjaan yang rutin karena dipastikan akan melayani dan menjadi penghilang penat para kader partai yang siangnya telah berkampanye. Dengan kedok konsolidasi dan rapat tim sukses, sekretariat partai-partai di Desa Logika menjadi base-camp baru untuk pelacur yang sengaja dipakaikan pakaian ala pemenangan partai dan dimasukkan dalam daftar tim sukses. Istri-istri dengan bangga bercerita pada keluarga dan dalam arisan bahwa suaminya adalah tokoh di partai dan setiap malam selalu rapat disekretariat.

Tugas ketua RT semakin berat menjelang pemilu. Tidak sedikit rumah warganya yang bertikai akibat anggota keluarga memiliki pandangan politik yang berbeda. Belum lagi ditambah tugas menyebar uang dari peserta pemilu. Setiap warga sudah enggan  bekerja sejak musim kampanye datang, setiap pagi selalu ada tim sukses yang datang menghantar uang dengan pesan "pilih tuan *** dengan nomor urut ** partai **". 

Tibalah masanya pemilu dilangsungkan. Kertas suara berisi 60 foto calon legislatif dengan latar sesuai warna dasar partai masing-masing. Warga enggan untuk datang ke lokasi pemilihan suara. Para tim sukses dan para pelacur yang sengaja diminta untuk meramaikan tempat pemilu kebingungan. Tidak ada satupun warga yang datang sampai hampir tengah hari. Satu jam lagi waktu pencoblosan akan berakhir namun kotak suara belum terisi sama sekali. Tim sukses mulai resah, bingung, dan takut. Sudah pasti jika tidak ada suara yang masuk maka tidak akan mungkin jagoannya menjadi pemenang. Ini adalah hal gawat. Dengan inisiatif dan kebijaksanaannya, Kepala Desa pergi bersama salah seorang ketua RT menuju surau. Pengeras suara dinyalakan dan diumumkan kepada seluruh penghuni Desa Logika untuk segera menuju tempat pemilu. 

Setengah jam setelah pengumuman belum tampak adanya warga yang datang ke lokasi pemilu. Tim Sukses dan para Pejabat Desa bertambah resah. Beberapa handphone tim sukses mulai sibuk dengan pertanyaan dari para calon legislatif yang menanyakan suara yang Ia dapat. Hansip, Panwaslu, Bawaslu, Kepala Desa, dan Seluruh ketua RT memohon izin untuk mencoba berkeliling kampung. Tinggallah tempat pemilu dihuni oleh tim sukses dan pelacur yang tercatat sebagai kader. Sampai akhir batas waktu pemilu, tidak satu orang-pun dari perangkat desa tersebut yang datang kembali ke lokasi pemilu. Ternyata mereka telah pulang ke rumah masing-masing. 

Satu hari setelah pemilu di jalankan. Nama Desa Logika mendadak terkenal, desa ini menjadi liputan media cetak dan televisi. Wartawan berdatangan dan warga-warga banyak yang diwawancara. Dalam sekejap, Desa Logika menjadi sorotan publik lokal hingga nasional. Ada yang menarik dari pemberitaan media terhadap Desa Logika. Desa Logika dinilai sebagai contoh desa yang telah cerdas dan menerapkan demokrasi secara penuh. Semua warga tidak memilih karena memang menjadi bagian dari tindakan protes terhadap semua calon wakil rakyat yang telah menjalankan praktek politik uang. Dalam pemberitaan juga disampaikan bahwa warga enggan menggunakan hak suaranya karena tidak percaya kepada para warga kepada wakil rakyat yang dinilai tidak memiliki etika. 

Desa Logika menjadi cermin demokrasi nasional. Semua media mengapresiasi komitmen yang tegas dari semua warga. Aku sendiri melihat keanehan dari semua yang diberitakan. Kekuatan apa sebenarnya yang menutupi kebenaran yang harganya semakin mahal? Siapa yang cerdas dan siapa yang berkuasa terhadap isu? Siapa yang akhirnya menjadi pemenang dan dipecundangi? Rakyat, para calon pemimpin, atau media yang menjadi pemenang? Menurutku, yang menjadi pemenang adalah Golput. Ya, Golput yang berhasil menjadi pemenang di Desa Logika. Itulah desa itu akhirnya terkenal, dikenal, dan abadi menjadi barometer politik nasional sebagai Desa Logika.

(Sebuah Fiksi)

Semakbelukar - Sebuah Portofolio


"Rasa marah adalah anugerah, untuk kita yang berpikir
Maka marahlah kepada semua hal yang rusak dan merusak
Rasa malas adalah anugerah, untuk kita yang berpikir
Maka bermalaslah untuk lakukan semua hal yang tak berguna" --lirik Malas Marah (Semakbelukar)


Penggalan lirik yang didendangkan Semakbelukar menyempurnakan petuah lirik yang didendangkan dengan khas nada-nada cengkok Melayu. Seperti membenarkan bahwa melayu itu adalah cara bertutur, dalam lagu-lagu mereka menyampaikan pesan yang sarada akan kehidupan sehari-hari. Musik yang mendobrak eksistensi aliran yang deras masuk tapi tidak beraakar dalam nuansa musik belakangan ini.

Aku terkesima dengan dobrakan musik ini, mengubah kembali paradigma karya dengan alat-alat sederhana yang akhirnya menjadikan sebuah musik. Lekat sekali dengan etnis, seperti pesan-pesan dalam diksi dituliskan begitu sempurna. Semakbelukar datang dan berlalu begitu saja dalam pertumbuhan rasa cinta akan musik melayu yang telah cukup lama ditinggalkan. Musik yang belakangan lebih sering digantikan dengan nada-nada elektronik, menjemput keinginan pasar dan tuntutan produksi. Idealnya mereka datang seperti hujan ditengah gersangnya suasana telinga, menyentil lewat rima-rima yang dirangkai menjadi tiap bait bak petuah. Sebelum menjadi besar, mereka hilang dan pergi begitu saja. Meninggalkan karya yang terus dinikmati oleh sebagian kecil penikmat musik. Mungkin bukan Semakbelukar lagi yang akan menjadi perahu mereka untuk "Berlayar di Daratan". Setidaknya, ini gambaran untuk mereka tetap "Mekar Mewangi", setidaknya begitu pendapatku. Ini adalah group musik paling brengsek yang aku tau, mereka berlalu begitu saja ketika banyak yang mulai menyukai karya mereka.

Be(re)ncana__Semakbelukar

"terlahir dan terasingkan tak lantas menjadi duka,
hanya karena berbeda tak berarti hilang luka,
karena sempurna itu hanya sebuah rencana,
karena sempurna itu hanya sebuah bencana,

terbuang dan terlupakan tak lantasmenjadi duka
hanya karena terbatas tak berarti tanpa belas,
karena sempurna itu hanya sebuah rencana,
karena sempurna itu hanya sebuah bencana,

untuk yang memuja, bukan yang dipuja

Terlahir dan terasingkan tak lantas menjadikan luka hilang muka"

Zaman Masker dan Tabung Oksigen

Men, kali ini kita bahas agak serius sedikit tentang "kemungkinan" akibat pencemaran udara yang terus-terusan diberitakan (bahasa keren-nya "polusi"). Idenya secara iseng saat istirahat, aku ngobrol-ngobrol dengan rekan tentang ngeri-nya fenomena alam yang terjadi saat ini. Selanjutnya, kami terbayangkan kemungkinan yang sangat mengejutkan ; kemungkinan manusia BERUBAH menjadi orang-orang ber-masker yang selalu menggendong tabung oksigen. Ya, seperti hero-hero di kartun animasi, tapi ini lebih keren lagi karena semua orang akan menggunakan seragam yang sama. Wow, makin seru macam di film-film.

Sumber : Google Picture
Men, keren kan ya kalau semua orang menggunakan kostum yang kira-kira seperti gambar diatas. Eh, tapi tunggu dulu kita harus melihat kira-kira tabung oksigen selama ini berfungsi untuk apa? Yap, fungsi utamanya adalah menyimpan oksigen yang "bersih" dan bisa dimanfaatkan untuk membantu pernafasan. Selama ini tabung oksigen digunakan oleh beberapa profesi, misalnya pendakian gunung, penyelaman, dan kebutuhan medis. Pendakian gunung membutuhkan tabung dan bantuan oksigen dalam pernafasannya karena diketinggian ketersediaan oksigen akan semakin menipis. Penyelaman sudah jelas sekali, karena keterbatasan kemampuan manusia dalam menahan nafas  dan di dalam air tidak tersedia oksigen yang bisa dihirup manusia, maka penyelaman selalu dibantu dengan tabung oksigen. Selanjutnya untuk keperluan medis, nah kalau untuk hal ini sangat spesifik sekali. Sebenarnya di ruangan rumah sakit kan tersedia oksigen Wak? Yuhuuuu, itu betul tapi MUNGKIN tabung oksigen dan suplai oksigen diberikan pada pasien rumah sakit karena terdapat gangguan pernafasan atau mereka membutuhkan suplai oksigen yang "sehat" dan "bersih". Tapi itu kemungkinan saja, aku tidak tau alasan pastinya.

Beberapa waktu lalu aku kaget baca artikel di Kompasiana yang judulnya Jokowi-Ahok Bersama PGN, Kompak Urus Jakarta (Ini Baru Oke). Men, ini bukan tentang Jokowi-Ahok atau tentang isu politik menjelang pemilu, tapi ada beberapa bagian tulisannya yang bikin hati menohok. Ini kutipannya : 

"Masa depan kesehatan anak-anak Jakarta terancam buruk akibat penggunaan BBM bersubsidi (premium dan solar)
Taukah Anda ? konsumsi BBM bersubsidi hampir mencapai 9 juta liter per hari. 1 Liter bensin saja bisa melepaskan 3KG karbon dioksida. Bisa dbayangkan berapa juta kilogram gas karbon dioksida terlepas di udara? Belum lagi partikel berbahaya lain seperti timbal dan sulfur (yang juga terkandung dalam bensin) yang terlepas di udara saat bersamaan.

Penelitian PPK -UI tahun 2001 (Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia) terhadap 400 orang anak Jakarta, 140 diantaranya kedapatan mengandung timbal (Pb) dalam darahnya. Kondisi ini menyebabkan anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit seperti kerusakan sistem saraf, jantung dan metabolisme." Ditulis Oleh Maria Citinjaks.

Itu hasil penelitian 13 tahun yang lalu. Men,  35 % anak-anak di Jakarta darahnya telah terkontaminasi unsur kimia yang disebabkan oleh polusi. Bagaimana dengan tahun 2014? No..no..no, aku tidak tahu..! Membayangkannya saja sudah ngeri-ngeri sedap, apalagi jika benar kita tau perkembangan data ini setiap tahunnya. Ah, ngeri kali.

Lalu apa hubungannya dengan Manusia Ber-Masker dan Tabung Oksigen?

Men, pernah di rilis sebuah film yang judulnya Wall-E yang bercerita bagaimana perkembangan zaman dan teknologi. Film ini memperlihatkan bagaimana manusia tidak layak lagi hidup dimuka bumi sehingga manusia dengan segala kecanggihannya menciptakan sebuah dunia dengan penuh kecanggihan teknologi didalamnya. Mungkin film Wall-E itu adalah wujud nasib kehidupan jauh kedepan, mungkin. Tapi dunia ber-masker dan tabung oksigen akan menjadi pendahulu sebelum dunia seperti film Wall-E terbentuk. Wallahualam..:)

Men, mungkin terlalu ekstrim membayangkannya jika ada Zaman Masker dan Tabung Oksigen. Tapi mari kita lihat aktifitas yang saat ini terjadi di kota-kota :
Pacaran Pakai Masker
sekolah pakai masker
Ibadah pakai masker
Berangkat kerja pakai masker
Belanja pakai Masker
Men, jangan bilang kalau aktivitas diatas tidak terjadi dimuka bumi ini sekarang. Bahkan di Jakarta, (kalau kita cermat melihat sekeliling) kita akan melihat orang-orang menggunakan masker saat di dalam Transjakarta. Ha? Yap, dalam bis ber-AC sekalipun orang-orang butuh udara yg bersih dan sehat. Mengapa dalam ruangan ber-AC mereka tetap pakai masker? Mungkin karena debu dan jenis polutan lainnya bisa saja lengket ditiap orang yang menggunakan jasa bus atau teknologi AC bis yang sudah mulai jelek. Itu mungkin saja, tapi fenomena masker ini nyata ada.

Mengapa orang di kota-kota memilih menggunakan masker?
Jawabannya adalah tentang kenyamanan dan kesehatan. Udara yang tidak bersih diperkotaan dapat mengakibatkan banyak penyakit pernafasan. Jika digabungkan dengan efek sistemik yang disajikan dalam hasil penelitian diatas, rasanya mungkin banyak orang yang akan menggunakan masker dalam aktifitasnya. "Ngeri-ngeri sedap" Men, ah menakutkan sekali. Apakah hanya udara Jakarta yang bernasib begitu dimuka bumi ini? No, polusi adalah permasalahan sebagian besar kota di dunia. Kemajuan yang tidak diiringi dengan penataan pola hidup yang pro-lingkungan pasti akan selalu berdampak buruk pada daya dukung lingkungan hidup. Mungkin berasal dari pola transportasi, industrialisasi, pembebasan lahan dan perubahan tutupan lahan, pola dan gaya hidup, atau penyebab lainnya. Ah, nononononoo... Bagaimana dengan konsep Manusia Masker dan Tabung Oksigen kita diawal tadi?

Yap, jika sekarang banyak orang telah familiar menngunakan masker dalam aktivitasnya, berarti yang belum familiar adalah membawa tabung oksigen kemana-kemana. Men, jika kita lihat data kerusakan lingkungan saat ini maka mungkin saja suatu saat kandungan Oksigen di muka bumi ini sama banyak atau bahkan lebih sedikit dibandingkan gas polutan lainnya. Coba kita lihat konsep sederhana dalam fotosintesis dan respirasi yang hampir semua orang belajar ketika sekolah dasar, SMP dan SMA.

Sumber : Google Image
Men, jika kita melihat hubungan sebab-akibat dari kemungkinan Zaman Masker dan Tabung Oksigen. Maka aku kembali sadar bahwa aktifitas dan ambisi manusia ternyata telah berperan sangat besar dalam pelepasan gas polutan ke atmosfir. Men, lebih gila lagi ternyata tumbuhan dengan sukarela menyerap karbondioksida (CO2) dalam proses fotosintesisnya dan melepas Oksigen (O2) untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Men, dalam satu konsep "bertahan hidup" ini saja kita disadarkan peran tanaman yang begitu luar biasa. Lantas bagaimana secara sangat bijaksana pohon-pohon menyimpan CO2 yang diserapnya dalam biomassa. Wow, ini hubungan yang sederhana, telah diajarkan sejak kita kecil, tapi sulit untuk tetap disadari oleh semua manusia penghuni bumi ini.

Ternyata dalam sebuah bayangan mengerikan tentang Zaman Masker dan Tabung Oksigen, aku melihat kembali solusi untuk mencegah itu semua bisa terjadi. Yap, mempertahankan hutan dan terus menambah jumlahnya. Men, sekali-sekalilah kita melihat bagaimana harmoni itu tercipta antara kehidupan manusia dengan keseimbangan alam. Sederhana saja, kita bisa melihat itu semua dalam sebuah jawaban : Masyarakat sekitar hutan. Ini buktinya :
Sumber : Google Image
Sumber : Google Image
Sumber : Google Image
Sumber : Google Image

Hananto Maryan Wiguna