Kereta yang menanti

Pagi Jogja, sisa subuh masih terhambur jelas. Orang orang masih bersarung, pulang dari mushola berjalan atau naik sepeda. Permasalahanku dari dulu adalah susah bangun pagi, sehingga jarang aku temui keadaan Jogja yang seperti ini. Kalau bukan urusan tiket yang keberangkatannya pukul 06.45 WIB, mungkin aku masih santai atau meringkuk di bawah selimut.

Jalan Kaliurang pagi mulai ramai, ekspansi bisnis sarapan pagi mulai menggeliat di daerah ini. Gudeg, soto, nasi kuning, nasi rames, dll menghiasi jalanan yang mulai ramai, seperti gadis muda yg habis putus dan mulai ada yang PDKT lagi.

Di utara, merapi yang biasa megah tidak terlihat. Kabut masih cukup tebal rupanya, meskipun musim sudah jarang mendatangkan hujan. Aku memarkirkan kendaraan di parkir barat stasiun. Di sebelah timur, terpampang jelas dengan cahaya keemasan. Matahari pagi ini terasa begitu hangat, mungkin karena masih pagi.

Kereta yang menanti

Tidak seperti biasa, sesaat ketika masuk stasiun aku sudah langsung bisa masuk kereta. Belakangan ini, setiap bepergian jarang sekali aku mendapati hal seperti ini. Kereta yang menanti, berdiri membujur diatas bentangan rel. Memanjang, dengan barisan terdepan menghadap timur, tempat matahari keemasan itu baru muncul. Biasanya, aku harus menunggu dan menghabiskan waktu yang membosankan di ruang tunggu. Menunggu kereta, bus, atau pesawat datang.

Kereta benarlah selalu romantis, entah apa yang ada di benak orang orang yang menciptakan moda transportasi ini. Detail yang ada dikonsep seperti tools pengingat masa lalu. Stasiun yang kekunoan, rel yang tak putus, jalur yang melewati desa desa, atau ritual ritual sebelum memberangkatkan kereta seperti peluit panjang, klakson kereta. Kereta api yang gagal move on dari kekunoan, tapi mampu beradaptasi dengan kemajuan sistem menejemen.



Nostalgia imaji

Tahun 2007, bobot badanku tidak lebih dari 50 Kg. Aku baru lulus SMA di akhir bulan Juni ketika itu. Belum mengenal laptop, apalagi internet. Belum mengenal kartu ATM, apalagi internet banking. Aku hanya mengenal Pulau Jawa dari buku-buku bacaan sekolah, belum tau sehebat apa peradaban yang ada di sana.
Waktu berjalan memang lamban, tapi membuat kita bosan untuk menghitung dan membuat kita terbuai saat menjalani. Tak terasa, ternyata aku sudah meninggalkan tanah kelahiran di pulau seberang selama hampir 9 tahun lamanya. Sebuah akumulasi waktu yang sangat panjang, aku seperti terlena dalam rasa frustasi ketika menghitung berapa banyak moment yg sudah aku jalani. Waktu yang tidak sebentar itu menghantarkan banyak sekali cerita, banyak sekali perubahan dalam hidup. Tentang mimpi, cita cita, atau angan yang kandas, dan semua yang sudah dapat dicapai. Semua kejadian itu larut dalam catatan yang dilakoni oleh banyak aktor yang saling berbeda, latar yang berbeda, dan cara yang berbeda.
Perlu kesabaran dan ketekunan ekstra keras untuk bisa mengurai setiap fragmen cerita jika ingin ditulis dalam sebuah catatan lengkap, aku sendiri masih memiliki rasa ingin untuk dapat mengumpulkannya. Kadang jika ditulis, timbul rasa takut jika ada moment yang terlupa dan aktor aktor yang juga terlupa. Memang benar, kadang kita harus menulis catatan di tiap perjalanan hidup agar tidak menjadi akumulasi imaji saat hanya bisa mengenang. Lebih ironi lagi, sebagian cerita kadang terfragmen dalam ingatan yang tidak lengkap, ngawang, tidak jelas lagi, dan sering terlupa.
Tentang kawan kawan yang aku rindukan
Dalam keadaan saat ini, lengkap dengan hiruk pikuk cara masyarakat kota bekerja dan bertahan hidup, aku merasa makin terasing dalam sebuah entitas kemapanan yang aku saksikan. Setiap orang di ciptakan sesuai dengan program yang di install dalam otaknya, menuju tujuan akhir dari sebuah konsep, mereka sering menyebut target.
Apa itu entitas kemapanan versi bujangmelarat18? Gini, pemahaman tentang tujuan dari kemapanan, bukan terletak pada jumlah dan volume, melainkan pada nilai nilai. Kadang hal kecil yang menjadi esensi sebuah haluan akan mengakibatkan manfaat besar. Siapa yang mengira, sebuah kapal besar dapat di rubah haluannya oleh sebuah kemudi yang kecil? Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita mengetahui kemudi, kapan akan diarahkan ke kanan dan kapan akan diarahkan ke sebelah kiri. Kapan akan mendayung dengan kencang, kapan kita akan mengalir mengikuti angin. Sampai di tahap itu, entitas kemapanan yang aku maksud mungkin baru bisa terdefinisikan.
Ditengah hiruk pikuk kota yang ramah ini, aku merindukan sosok sosok lugu para sahabat lama. Kami pernah memiliki mimpi sederhana, memperjuangkannya, sampai akhirnya kami berhasil meraih tujuan.
Manusia manusia yang hidup dalam mimpi, mimpi mimpi yang sengaja tidak di bendung batasannya agar dapat dinikmati sebagai sebuah nilai estetik, mimpi yang untuk mencapainya selalu timbul rasa ingin dan rasa penasaran yang besar, mimpi yang akhirnya tumbuh menjadi energi energi besar yang tidak kenal lelah, mimpi yang menjadikan waktu terasa begitu cepat dan gampang untuk menghitungnya, mimpi yang tidak kami tukarkan dengan angka angka rupiah.
Hukum alam memang akan merubah malam menjadi siang, waktu yang berjalan terus menerus bisa menggerus bahkan menumbuhkan. Kita yang tau, menjalani dalam memimpin biduk dengan kemudi. Seperti salah satu segmen cerita tentang kawan kawan ini, aku ibaratkan pada ceritaku yang memang sedang rindu dengan kawan kawan Jurasix's di Muara Tebo. Semoga kalian selalu sehat.
Kami pernah memiliki mimpi yang sama, kebetulan ketika itu tentang hobi bermain musik. Sadar akan kemampuan kami yang terbatas, kami akhirnya saling mengajari dan giat berlatih. Setiap hari selalu bermain musik, bercengkerama bersama, belajar, sekolah, bahkan setiap malam nongkrong bersama. Kemajuan demi kemajuan dicapai, hingga kami mengikuti beberapa festival musik di daerah. Sejak awal kami selalu sadar, bahwa kami mungkin tidak akan pernah menjadi pemain musik yang terhebat, tapi kami yakin bahwa kami telah melakukan upaya terhebat yang bisa kami lakukan. Hingga akhirnya, musik bukan menjadi alasan kami lagi untuk bisa tumbuh dan hidup. Pertengahan tahun 2007 ketika kami semua harus mengakhiri permainan musik dan menjalani hidup masing masing akibat kuliah.
Itulah mengapa entitas kemapanan perlu aku pelajari. Bahwa memiliki dan memupuk mimpi itu sangat penting. Bukan pada jumlah atau volume, tapi nilai nilai. Jurasixs memang tidak menjadi sebuah group musik besar dan mendunia, tapi dengan keterbatasan yang kami miliki kami telah berhasil membangun nilai nilai besar dalam diri kami masing masing. Nilai nilai yang ternyata akhirnya memberi pandangan besar bagi orang orang yang ada dan pernah mengenal jurasixs. Nilai nilai yang hingga saat ini masih selalu tumbuh dan dirindukan, teselaikan ketika kami bernyanyi bersama saat mendapat kesempatan bermain musik bersama lagi setiap pulang ke kampung halaman.
Mungkin kekakuan cara pandang kita semua terhadap teori teori telah menjebak banyak orang dalam era sistematisasi yang profesional dan komprehensif (pfffttttttt). Menjadikan nilai nilai yang tadinya sangat artistik, menggairahkan, dan penuh energi menjadi butir butir pasal atau pedoman yang kaku. Menjadikan sebentuk aplikasi yang siap bekerja sesuai dengan tujuan, dimainkan oleh operator yang mungkin handal atau pura pura handal, sampai berhenti karena merasa bosan atau sudah saatnya untuk berhenti.
Jika ini semua di jadikan mimpi, kita selalu berbahagia karena setelah selesai bermimpi sudah pasti kita dalam keadaan terbangun. Andai

Aku, sudah tidak lagi aku temukan

Ada pagi yg datang, aku lewati
Ada malam yg hilang, aku cari
Senja yg datang hanya sebentar, selalu di nanti
Aku melupakan kau
Yang lekang
Ada di sebelahku

Seperti transparan yg tak berbayang
Apakah aku tetap hidup!
Jiwa sendiri hilang
Aku kehilanganmu, pelengkap adanya dunia
Kau menjelma, menjadi api
Menakuti, tapi kau enggan menghanguskanku
Terjebak dalam bara dan asap
Seperti hendak mati dari duniaku
Kupu enggan datang, khayal larut dalam kebingungan
Aku ingin terus melukis dunia, dengan karya dan liar fikiran
Tapi akun telah dihapuskan
Aku telah terkalahkan

Ada senyum sederhana
Memeluk buku, menggenggam pensil disebelahnya
Tersenyum, itu saja tanpa bersuara
Ia menertawakanku,
Aku tertunduk, dia mengenali bahwa aku telah hilang
Ia mengerti, bahwa aku sudah tidak lagi aku temukan

menemukan

kau tak perlu menjadi siapapun
telah banyak yang kau pelajari
telah banyak yang kau datangi
telah banyak yang kau lihat
telah banyak yang menasehatimu
telah banyak yang kau lakukan
telah banyak catatan yang kau baca
telah banyak ayat-ayat yang kau kaji
telah banyak tangisan yang kau sembuhkan

untuk itu semua
'tak perlu kau bicara bahwa kau masih mendera kebingungan
'tak layak pula kau melihat banyak yang lebih sempurna
membandingkan adalah cara mengukur karyaNya
keagungan dan kebesaran tidak ditemukan atas dasar ukuran
kembalilah pada fitrah, semua orang akan menemukan

April 2016

Tentang "Tata-Batas"

Duduk di pojok sebuah angkringan, menyimak diskusi senior yang pulang ke jogja karena sedang cuti dari pekerjaannya. Topik pembicaraan mereka masih seputar hutan, kebanyakan tentang perusahaan tempat mereka bernaung. Aku tidak begitu memahami seluk-beluk tata batas yang lengkap dengan aturan dan "cara" mencapai aturan tersebut. Yang aku tau adalah pentingnya menata dan membuat batas yang jelas untuk areal yang menjadi hak pengelolaan.

Sementara mereka berdiskusi, pikiran menerawang bahwa hidup juga perlu kewajiban "tata-batas". #mulaingelantur

Perjalanan kehidupan yang terus maju (modernisasi) sepertinya telah banyak mengaburkan batas-batas kehidupan manusia yang menjalaninya. Keterbukaan informasi bukan hanya untuk kepentingan manfaat, tapi sering kita melupakan bahwa informasi merupakan titik terluar batas konsumsi diri (input) dengan yang seharusnya diterima orang lain (out put).
Aku sendiri juga pelaku "pencabulan" atas esensi "tata-batas" yang aku maksud.

Sementara di pihak lain, eksistensi "rasa sosial" telah ikut pula mengaburkan "tata-batas" sosial yang sebenarnya dengan "narsis" sosial (aku bingung membahasakannya). Maksudnya begini ; banyaknya pembajakan atas rasa sosial yang mengakibatkan kegiatan-kegiatan sosial menjadi ajang narsis yang membuat esensi rasa empati tercabul oleh aksi narsis bahkan pamrih yang mengatasnamakan sosial.

Ibu-ibu dewan di negara ini tidak hanya memberi klaim sosial pada kegiatan empati terhadap sesama, terlebih membawa kegiatan kelompok yang bersenang-senang di luar negeri dengan klaim kegiatan sosial.
Mungkin juga dengan sebagian kecil mahasiswa yang melakukan KKN, yayasan yang sengaja dikonsep untuk meraup keuntungan golongan, atau ajang "jualan space di mesjid" yang banyak di klaim sebagai tiket menuju surga.
Aku mungkin yang salah memahami, semoga.

Kembali kita ke topik tata-batas, konsep ini sangat indah dimana setiap unsur diwajibkan menata dan memberi batas atas unsur lain baik yang ada didalam (internal) maupun dengan unsur lain di luarnya (eksternal). Tujuannya mungkin agar lebih mudah dalam menejemen pengelolaan, menjalani, mengatur, hingga memetakan potensi dan menilai keberhasilan. Ini konsep yang indah sekali, ideal, konsep sebagai dasar/fondasi yang harusnya sangat kuat untuk menjadi sebuah struktur besar. Aku rasa ini mirip juga dengan "karakter" yang ada di manusia. Indonesia katanya sedang menuju cita-cita membangun karakter ini dengan ide revolusi mental-nya. Toh setiap orang seharusnya memang memiliki karakter masing-masing, yang beruntung adalah yang cepat menemukan jati diri nya dan yang kurang beruntung adalah yang terlambat. Karakter ini adalah modal menata kehidupan, menjadi acuan dalam membuat batasan diri agar tidak menjadi yang abu-abu atau bahkan tidak memiliki warna sama sekali.

Yang menjadi catatan adalah ; sudahkan "tata-batas" itu dilakukan dan diterapkan?

Khusus untuk hutan, berdasarkan pembicaraan senior senior ini bisa ditarik kesimpulan bahwa praktiknya menata dan menyusun batas itu tidak sederhana dan tidak mudah. Hasilnya hanya sedikit yang telah selesai melakukan tata batas hutan.
Lantas bagaimana dengan analogi terhadap manusia? dengan akumulasi fenomena yang ada rasanya peradaban manusia telah jauh berhasil dari pada pencapaian tata batas hutan.
Semoga saja memang demikian, sebab sejarah telah menunjukkan bahwa nenek moyang kita tidak memiliki Facebook, Twitter, Path, blogger atau media lain yang menjadi tempat mereka "mengaburkan" batas pribadi dan kehidupan sosial. Mereka telah menjalani peradaban dimana batas internal dan eksternal telah diterapkan sedemikian rupa sehingga melahirkan kehidupan yg memiliki karakter-karakter antar setiap unsurnya.
Mungkin yang mereka lakukan hanya curhat, itupun sulit dibayangkan karena pola kehidupan mereka yang nomaden pasti akan sangat sulit curhat (apalagi hingga nangis) sambil mengembara di hutan-hutan, ditambah sambil meramu makanan. Itu susah sekali.
Hasilnya, sejarah menceritakan setiap peradaban yang berkarakter. Mereka memiliki identitas kuat atas diri sendiri dan asosiasi yang menaungi mereka.
Nenek moyang tidak sibuk dengan perang sindiran di media massa atau media sosial apalagi hanya untuk membangun dan mengamankan citra positif, kalau ada yang tidak suka langsung saja diselesaikan dengan hukum adat yang berlaku atau dengan pertarungan untuk tujuan menjelaskan batas antara yang menang dan yang kalah, yang benar dan yang salah, yang layak dan yang tidak layak.
Setiap kelompok bertahan dengan loyalitas tinggi para anggotanya dalam mempertahankan batas yang mereka miliki, bukan dengan saling caplok batas laut atau saling berbagi harta curian dengan tujuan mengamankan kekuasaan pribadi dengan menghianati kelompok/bangsanya. Nenek moyang berhasil mengajarkan karakter yang kuat lewat sejarah yang masih bisa dipelajari hingga saat ini.
Apakah memang sebenarnya keterbukaan informasi dan moderenisasi yang ada saat ini  diciptakan untuk menghapus batas-batas yang membedakan tiap manusia?.
Jika benar, peradaban kita tidak hanya salah ketika menciptakan facebook, Twitter, Path, blogger, dll, tapi juga telah menghianati hukum biologi tentang keragaman genetik. Orang-orang sengaja "diciptakan" mirip seperti robot yang dapat diperintah sesuai instruksi/program yang ingin di capai. Standar-standar diciptakan untuk menghindari perbedaan, mengucilkan obyek minoritas yang memiliki karakter berbeda. Orang-orang dikumpulkan dengan sebuah program yang sama, menghapus batas-batas yang telah di tata oleh perbedaan struktur genetik yang mereka bawa sejak diciptakan.

Jika benar, apakah mungkin juga moderenisasi yang menciptakan era digital seperti blog yang anda baca ini? apakah itu semua adalah salah satu cara menghapus sejarah peradaban manusia?
Dengan digitasi, semua informasi di ubah dalam bentuk data. Zaman informasi berupa bukti fisik mulai ditinggalkan, hanya untuk mendapat apresiasi bahwa peradaban kita adalah peradaban maju.
Jangan-jangan, Atlantis yang dalam cerita sebagai peradaban moderen itu tidak berbekas hingga saat ini karena peradaban itu dibangun oleh era digitalisasi juga?
Lantas untuk apa kita melakukan tata batas? Jika mungkin suatu saat semua basis data informasi itu hilang karena saluran listrik pada servernya tiba-tiba mati dan adminnya lupa "save"?!.
Jika benar demikian, maka mungkin benar bahwa moderenisasi ini salah satu penyebab lunturnya esensi tata batas. Adalah penyebab hilangnya sejarah peradaban.

Sebelum jauh terfikir hal yang aneh-aneh, aku segera berpindah dari tempat duduk di pojok angkringan menuju lokasi yang lebih dekat dengan gorengan. Ternyata fikiran tersebut diatas timbul akibat rasa lapar, rasa sepi, dan rasa pesimis terhadap keadaan hutan yang senior-senior ceritakan.
Itu saja!