Tempat Untuk Pulang

Adakah yang mampu memberi jawaban
Kemana aku harus pulang?

Alam sekitar membeku
Aku menyesali ilalang yang hanya diam
Mengutuk awan yang hilang berganti
Sungguh aku membenci
Pertanyaan-pertanyaan tentang pulang
Mengusik palung dalam jiwa,
Yang lama aku simpan dalam diam

Yang aku benci
Sesungguhnya bukan pertanyaan-pertanyaan
Bukan pula permintaan untuk pulang
Aku membenci sosok dalam kaca, yang takut, yang beku, yang bodoh
Semakin aku jauh, semakin aku membunuh waktu
Aku makin tidak menemukan, jawaban untuk segera pulang

Mengisi Sepi

Kita bisa saja hilang ditelan malam
Sampai pagi tiba
Begitu seterusnya..!

Tapi kita tetap hidup dalam teka teki
Dalam usaha usaha
Menemukan rahasia rahasia
Menggali sumur sumur dalam keterasingan
Membukakan mata, dengan jiwa
Dan telinga kita
Tentang negara ini
Tanah tumpah darah yg sama sama dicintai

Semua dengan aktivitasnya
Bekerja, menulis, melukis, membaca, membangun, dan lainnya
Ada juga yg hanya diam
Ada juga yg hanya menikmati
Ada juga yg hanya mengkritisi
Ada juga yg hanya berdiri, mematung
Ada juga yg tidak ada
Semua ada untuk keterasingannya masing masing

Aku mencoba hidup kembali
Dengan kematian yg selama ini sama sekali tidak aku fahami
Merundukkan kepala sambil mengecap dada
Berdiskusi dengan dimensi
Menyusun puing puing sampah serapah
Begitu sensitifnya kehidupan
Seperti biduk yg mudah saja dikendalikan lewat kemudi

Mari kita duduk dihadapan kisah yg sederhana
Menyelami relung buntu, yg selama ini penuh dengan masa lalu
Menyulam celah celah kisah, untuk maju kedepan
Aku yg diam dalam malam malam
Kembali ingin bersamamu
Mengenakan kembali batik lusuh agar kita bersama menjadi satu
Mengisi indah, mengisi sepi

(analisis ngawur) Hari yang MAHAL : 4 November 2016

Saya tidak begitu menyimak isu yang beredar belakangan ini, cerita teman-teman di kantor yang akhirnya membuat saya penasaran. Ternyata, #PilkadaDKI masih sexy dibahas dengan berbagai maam sudut pandang para komentator luar lapangan, mereka ini sebenarnya adalah juragan-juragan yang belum tentu terlibat aktif dalam pemilu namun cukup buat gaduh.

Karena cukup ramai di bahas, saya mencoba mencari-cari beritanya. Benarlah ternyata, sebentar saja saya searching di Google, muncul ribuan berita tentang itu. Hal yang menarik untuk saya, adalah ternyata pemerintah cukup khawatir dengan rencana demo besok ini. Ngeri-ngeri sedap, ditambah kalau baca bumbu bumbu busuk di dalam coment-coment di setiap artikel berita. Tidak tanggung-tanggung, di beberapa berita, disampaikan perkiraan jumlah para aktivis yang ikut demo luar biasa banyak, angkanya mencapai 30.000 orang. Ngeri ngeri sedap. Aparat yang diterjunkan untuk mengamankan demo tersebut di sebut-sebut sebanyak 7000 orang. Mengerikan, jumlah sebanyak 37.000 orang, pada satu waktu yang sama menumpuk di satu tempat dengan tujuan yang sama. Ini luar biasa sekali.

Terlepas dari mengapa dan apa tujuan mereka melakukan demonstrasi (karena menyampaikan pendapat sudah di atur di undang-undang dan menjadi bagian hak setiap warga negara), saya tidak mau ambil pusing dengan itu lah. Tapi, ada satu sudut yang cukup menarik untuk saya lihat, itu semua akan saya jabarkan sebagai berikut.

Anggaran Demo 4 November 2016

Dalam salah satu link berita disampaikan bahwa anggaran untuk demo 4 November 2016 mencapai lebih dari 100 milyar.  Edan po, demo aja habiskan uang lebih dari 100 milyar. Itu uang yang besar, uang sebesar itu hampir sama dengan 10% APBD 2016 Kabupaten Tebo. Bro, 10% dari APBD setahun untuk sebuah kabupaten, cuma dihabiskan untuk demo 1 hari. Luar biasa..

Anggap saja 100 milyar itu keliru, saya coba hitung-hitung secara kasar kira-kira berapa duit yang akan habis untuk kebutuhan pokok para demonstran tanggal 4 November besok.
Mari kita hitung :

  1. Jumlah Demonstran : 30.000 orang
  2. Jumlah aparat pengamanan : 7000 orang
  3. Total Demosntran dan personil keamanan : 37.000 orang
  4. Biaya makanan 1 orang : Rp. 10.000 (asumsi 1 orang 1 kali makan)
  5. Biaya minum 1 orang : Rp. 3000 (asumsi 1 orang 1 botol Aqua)
  6. Total biaya yang habis : 37.000 orang x Rp. 13.000 = Rp. 481.000.000
  7. Biaya pembuatan spanduk, bendera, beli batu bata, helem, dll : Rp. 20.000.000 (asumsi)
  8. Total biaya : Rp. 501.000.000
Diatas, adalah hitung-hitungan kasar biaya pokok yang mungkin akan hilang menurut saya. Belum di hitung berapa banyak biaya lainnya yang akan timbul, misal biaya untuk liputan, biaya rehabilitasi fasilitas umum yang rusak, biaya penanaman taman lagi, biaya kebersihan, biaya perawatan rumah sakit, dll. Intinya, untuk biaya pokok saja sudah habis 0,5 milyar. 


Berandai-andai, Energi Itu Untuk Pembangunan
Mari kita berandai-andai, dengan sedikit keluar dari egoisme kelompok maupun golongan, sedikit keluar dari jebakan isu dari berbagai macam pemberitaan, sedikit membuka mata, sedikit melihat tentang apa esensi dari ajaran kebaikan yang selama ini kita lafazkan. Pertama, saya mengira, jika energi dari 37.000 orang itu digerakkan secara serentak membantu membenahi jalan-jalan di desa-desa terpencil di Indonesia. Jika satu orang mampu mengangkut batu dan meratakan tanah dengan cangkul untuk jalan sepanjang 1 m, maka dalam sehari kita sudah bisa menghasilkan 37.000 meter jalan di desa-desa terpencil. Itu setara dengan 37 km (kalau saya tidak salah hitung). Kedua, jika kita terlalu sungkan untuk bergotong royong membangun jalan, uangnya saja kita alihkan untuk pembangunan di daerah-daerah terpencil. Dengan asumsi rehabilitasi rumah di daerah-daerah menelan biaya 50 juta/rumah, maka uang itu sudah berhasil membangun 100 rumah tinggal dalam hanya satu hari saja. Bayangkan seandainya benar ada dana yang dihabiskan lebih dari 100 milyar, wow.. ini angka yang besar jika benar-benar digunakan untuk kemaslahatan.

Kita lihat dari perspektif lain, jika dana yan digunakan untuk demo itu kita buat sebagai modal usaha. Asumsi saja, untuk usaha mikro kita rata-rata satu unit usaha membutuhkan modal kerja Rp. 100 juta. Dengan serapan tenaga kerja sebanyak 10 orang untuk masing-masing unit usaha tersebut. Maka, paling tidak ada 5 usaha mikro dengan total 50 orang pekerja yang akan tumbuh dari uang demo yang dihabiskan untuk satu hari itu. Jika angka yang sebenarnya adalah 100 milyar? Wow, berapa banyak kepala keluarga yang akan bisa menggantungkan hidupnya dari usaha-usaha yang dibangun tersebut, dan berapa banyak pula unit bisnis yang akan berkembang kedepannya hanya dari alokasi dana demo yang akan habis 1 hari itu. 

Terlepas dari niat baik yang akan dilakukan teman-teman saat menjalani demo 4 November 2016, saya merasa hormat jika lebih-lebih 4 november 2016 tidak menjadi momok menakutkan oleh para pekerja kebersihan, aparat keamanan, sopir ambulan, hingga perawat di rumah sakit. Semoga tidak menambah beban mereka, semoga tidak merugikan mereka.

Salam,

Begini adanya

Ada sebuah malam
Malam yg enggan ku akhiri
Rayuan anginnya mengukir anggunmu
Bidadari yg hanya hadir dalam bayang

Kau sebenarnya mampu ku luluhkan
Dengan keterbatasan yg biasa biasa saja
Tapi
Ada yg tidak dapat mempertemukan
Jarak, waktu, dimensi dimensi abstrak menghamburkan semuanya

Udara tenang malam ini
Hanya gemuruh rasa yg terasa
Ada peluh yg di seka
Aku yakin bukan karena udara yg panas
Tapi angan yg tak terpadukan
Aku merasa begitu lelah

Memang malam ini dan seterusnya kita mungkin tidak akan bersama
Seperti jauh dihadapanku
Kau jauh di ujung angan
Begitu dekat, di dalam dada
Itulah mengapa kita begini adanya

Cerita akhir malam

Malam yg larut
Lebur bersama udara lembab
Aku rasa ini lembab, bukan sejuk
Di kota, susah mencari udara sejuk
Tapi, aku melihat sebuah kerinduan
Padamu, kekasih
Akhirnya malamku terasa sejuk

Bulan masih separoh
Cahayanya cukup, memberi remang melihat sawah di pekarangan
Atap atap rumah berjejer, seperti hamparan pegunungan
Aku rasa cukup, mewakili alam yg sebenarnya
Ada sedikit bintang yang berkelip
Mungkin karena awan malam cukup pekat
Jiwa manusia yg sunyi, melebur dalam balutan alam malam malam
Manusia harus selalu belajar bijak
Memahami dan menghargai pencipta, lewat karyanya

Padamu kekasih
Aku ingin bercerita tentang malam yg telah lalu
Tentang apa yg terfikirkan malam ini
Bahkan menebak malam malam yg akan datang
Begitu banyak, sampai aku hampir mengeluh
Lihatlah, betapa kawan kawan cepat berubah
Betapa cita cita tumbuh
Betapa banyaknya orang orang yg terus datang
Malam menjadi peraduan
Setia, menutup hari yang riuh