Aku, sudah tidak lagi aku temukan

Ada pagi yg datang, aku lewati
Ada malam yg hilang, aku cari
Senja yg datang hanya sebentar, selalu di nanti
Aku melupakan kau
Yang lekang
Ada di sebelahku

Seperti transparan yg tak berbayang
Apakah aku tetap hidup!
Jiwa sendiri hilang
Aku kehilanganmu, pelengkap adanya dunia
Kau menjelma, menjadi api
Menakuti, tapi kau enggan menghanguskanku
Terjebak dalam bara dan asap
Seperti hendak mati dari duniaku
Kupu enggan datang, khayal larut dalam kebingungan
Aku ingin terus melukis dunia, dengan karya dan liar fikiran
Tapi akun telah dihapuskan
Aku telah terkalahkan

Ada senyum sederhana
Memeluk buku, menggenggam pensil disebelahnya
Tersenyum, itu saja tanpa bersuara
Ia menertawakanku,
Aku tertunduk, dia mengenali bahwa aku telah hilang
Ia mengerti, bahwa aku sudah tidak lagi aku temukan

menemukan

kau tak perlu menjadi siapapun
telah banyak yang kau pelajari
telah banyak yang kau datangi
telah banyak yang kau lihat
telah banyak yang menasehatimu
telah banyak yang kau lakukan
telah banyak catatan yang kau baca
telah banyak ayat-ayat yang kau kaji
telah banyak tangisan yang kau sembuhkan

untuk itu semua
'tak perlu kau bicara bahwa kau masih mendera kebingungan
'tak layak pula kau melihat banyak yang lebih sempurna
membandingkan adalah cara mengukur karyaNya
keagungan dan kebesaran tidak ditemukan atas dasar ukuran
kembalilah pada fitrah, semua orang akan menemukan

April 2016

Tentang "Tata-Batas"

Duduk di pojok sebuah angkringan, menyimak diskusi senior yang pulang ke jogja karena sedang cuti dari pekerjaannya. Topik pembicaraan mereka masih seputar hutan, kebanyakan tentang perusahaan tempat mereka bernaung. Aku tidak begitu memahami seluk-beluk tata batas yang lengkap dengan aturan dan "cara" mencapai aturan tersebut. Yang aku tau adalah pentingnya menata dan membuat batas yang jelas untuk areal yang menjadi hak pengelolaan.

Sementara mereka berdiskusi, pikiran menerawang bahwa hidup juga perlu kewajiban "tata-batas". #mulaingelantur

Perjalanan kehidupan yang terus maju (modernisasi) sepertinya telah banyak mengaburkan batas-batas kehidupan manusia yang menjalaninya. Keterbukaan informasi bukan hanya untuk kepentingan manfaat, tapi sering kita melupakan bahwa informasi merupakan titik terluar batas konsumsi diri (input) dengan yang seharusnya diterima orang lain (out put).
Aku sendiri juga pelaku "pencabulan" atas esensi "tata-batas" yang aku maksud.

Sementara di pihak lain, eksistensi "rasa sosial" telah ikut pula mengaburkan "tata-batas" sosial yang sebenarnya dengan "narsis" sosial (aku bingung membahasakannya). Maksudnya begini ; banyaknya pembajakan atas rasa sosial yang mengakibatkan kegiatan-kegiatan sosial menjadi ajang narsis yang membuat esensi rasa empati tercabul oleh aksi narsis bahkan pamrih yang mengatasnamakan sosial.

Ibu-ibu dewan di negara ini tidak hanya memberi klaim sosial pada kegiatan empati terhadap sesama, terlebih membawa kegiatan kelompok yang bersenang-senang di luar negeri dengan klaim kegiatan sosial.
Mungkin juga dengan sebagian kecil mahasiswa yang melakukan KKN, yayasan yang sengaja dikonsep untuk meraup keuntungan golongan, atau ajang "jualan space di mesjid" yang banyak di klaim sebagai tiket menuju surga.
Aku mungkin yang salah memahami, semoga.

Kembali kita ke topik tata-batas, konsep ini sangat indah dimana setiap unsur diwajibkan menata dan memberi batas atas unsur lain baik yang ada didalam (internal) maupun dengan unsur lain di luarnya (eksternal). Tujuannya mungkin agar lebih mudah dalam menejemen pengelolaan, menjalani, mengatur, hingga memetakan potensi dan menilai keberhasilan. Ini konsep yang indah sekali, ideal, konsep sebagai dasar/fondasi yang harusnya sangat kuat untuk menjadi sebuah struktur besar. Aku rasa ini mirip juga dengan "karakter" yang ada di manusia. Indonesia katanya sedang menuju cita-cita membangun karakter ini dengan ide revolusi mental-nya. Toh setiap orang seharusnya memang memiliki karakter masing-masing, yang beruntung adalah yang cepat menemukan jati diri nya dan yang kurang beruntung adalah yang terlambat. Karakter ini adalah modal menata kehidupan, menjadi acuan dalam membuat batasan diri agar tidak menjadi yang abu-abu atau bahkan tidak memiliki warna sama sekali.

Yang menjadi catatan adalah ; sudahkan "tata-batas" itu dilakukan dan diterapkan?

Khusus untuk hutan, berdasarkan pembicaraan senior senior ini bisa ditarik kesimpulan bahwa praktiknya menata dan menyusun batas itu tidak sederhana dan tidak mudah. Hasilnya hanya sedikit yang telah selesai melakukan tata batas hutan.
Lantas bagaimana dengan analogi terhadap manusia? dengan akumulasi fenomena yang ada rasanya peradaban manusia telah jauh berhasil dari pada pencapaian tata batas hutan.
Semoga saja memang demikian, sebab sejarah telah menunjukkan bahwa nenek moyang kita tidak memiliki Facebook, Twitter, Path, blogger atau media lain yang menjadi tempat mereka "mengaburkan" batas pribadi dan kehidupan sosial. Mereka telah menjalani peradaban dimana batas internal dan eksternal telah diterapkan sedemikian rupa sehingga melahirkan kehidupan yg memiliki karakter-karakter antar setiap unsurnya.
Mungkin yang mereka lakukan hanya curhat, itupun sulit dibayangkan karena pola kehidupan mereka yang nomaden pasti akan sangat sulit curhat (apalagi hingga nangis) sambil mengembara di hutan-hutan, ditambah sambil meramu makanan. Itu susah sekali.
Hasilnya, sejarah menceritakan setiap peradaban yang berkarakter. Mereka memiliki identitas kuat atas diri sendiri dan asosiasi yang menaungi mereka.
Nenek moyang tidak sibuk dengan perang sindiran di media massa atau media sosial apalagi hanya untuk membangun dan mengamankan citra positif, kalau ada yang tidak suka langsung saja diselesaikan dengan hukum adat yang berlaku atau dengan pertarungan untuk tujuan menjelaskan batas antara yang menang dan yang kalah, yang benar dan yang salah, yang layak dan yang tidak layak.
Setiap kelompok bertahan dengan loyalitas tinggi para anggotanya dalam mempertahankan batas yang mereka miliki, bukan dengan saling caplok batas laut atau saling berbagi harta curian dengan tujuan mengamankan kekuasaan pribadi dengan menghianati kelompok/bangsanya. Nenek moyang berhasil mengajarkan karakter yang kuat lewat sejarah yang masih bisa dipelajari hingga saat ini.
Apakah memang sebenarnya keterbukaan informasi dan moderenisasi yang ada saat ini  diciptakan untuk menghapus batas-batas yang membedakan tiap manusia?.
Jika benar, peradaban kita tidak hanya salah ketika menciptakan facebook, Twitter, Path, blogger, dll, tapi juga telah menghianati hukum biologi tentang keragaman genetik. Orang-orang sengaja "diciptakan" mirip seperti robot yang dapat diperintah sesuai instruksi/program yang ingin di capai. Standar-standar diciptakan untuk menghindari perbedaan, mengucilkan obyek minoritas yang memiliki karakter berbeda. Orang-orang dikumpulkan dengan sebuah program yang sama, menghapus batas-batas yang telah di tata oleh perbedaan struktur genetik yang mereka bawa sejak diciptakan.

Jika benar, apakah mungkin juga moderenisasi yang menciptakan era digital seperti blog yang anda baca ini? apakah itu semua adalah salah satu cara menghapus sejarah peradaban manusia?
Dengan digitasi, semua informasi di ubah dalam bentuk data. Zaman informasi berupa bukti fisik mulai ditinggalkan, hanya untuk mendapat apresiasi bahwa peradaban kita adalah peradaban maju.
Jangan-jangan, Atlantis yang dalam cerita sebagai peradaban moderen itu tidak berbekas hingga saat ini karena peradaban itu dibangun oleh era digitalisasi juga?
Lantas untuk apa kita melakukan tata batas? Jika mungkin suatu saat semua basis data informasi itu hilang karena saluran listrik pada servernya tiba-tiba mati dan adminnya lupa "save"?!.
Jika benar demikian, maka mungkin benar bahwa moderenisasi ini salah satu penyebab lunturnya esensi tata batas. Adalah penyebab hilangnya sejarah peradaban.

Sebelum jauh terfikir hal yang aneh-aneh, aku segera berpindah dari tempat duduk di pojok angkringan menuju lokasi yang lebih dekat dengan gorengan. Ternyata fikiran tersebut diatas timbul akibat rasa lapar, rasa sepi, dan rasa pesimis terhadap keadaan hutan yang senior-senior ceritakan.
Itu saja!

Kau Senja

Seperti kebanyakan orang yang menantikan senja, sesungguhnya orang-orang itu bosan dengan gairah yang diberikan pagi dan merindukan perenungan. Merenung itu anugerah, bias-nya menggurat indah seperti mentari yang hendak tenggelam. Aku sedikit muak dengan orang yang menuhankan pagi, seolah hidupnya selalu berharap tanpa evaluasi waktu senja menyapa.  


Kita Harus Percaya, Mimpi Itu Indah..!

Benarlah bahwa aku sudah terlalu lama tidak mengisi blog ini, terakhir menulis tepatnya pada tanggal 2 Desember 2014, lebih dari setahun yang lalu. Setahun, waktu yang panjang terlewati. Dalam cerita hidupku, setahun berlalu dengan 12 bulan membangun usaha dan harus memenuhi kewajiban membayar gaji, menghabiskan 2 semester dibangku kuliah, dan sama juga dengan energi yang harus terbayar untuk itu semua. Banyak hal yang ingin ditulis, telah menumpuk di ubun-ubun, namun tumpukan itu menggunung menjadi beban yang cukup membuat pusing. Dari banyak hal itu, ternyata aku berhasil menyadari bahwa semua beban itu ternyata adalah mimpi yang puluhan tahun aku pupuk untuk bisa tersemai, tumbuh, dan terwujud. Selayaknya aku bersyukur.

Jogja malam ini masih hujan, satu persatu teman yang mengisi kantor beranjak pulang. Sepertinya aku akan pulang terakhir, mengerjakan kewajiban yang menumpuk entah itu tugas kuliah, maupun persiapan akreditasi perusahaan yang sebentar lagi akan dilakukan. Hujan memang menyenangkan, setidaknya untuk menenangkan fikiran dan membawa suasana tenang. Hujan juga yang membuat keinginan untuk menulis blog ini kembali timbul.

Beberapa minggu terakhir, aku lebih banyak merenungi keadaan, bahkan di suatu malam dikantor bersama 3 orang sahabat sempat kami berbincang menertawakan keadaan yang bisa kami capai hingga saat ini. Keadaan saat ini adalah mimpi kami satu tahun yang lalu. Mimpi yang entah bagaimana caranya untuk bisa kami wujudkan ; tanpa pengetahuan yang cukup, tanpa modal, tanpa bantuan orang lain, tanpa apapun yang kami miliki selain percaya bahwa apa yang kami impikan dan rencanakan akan menguak misteri tentang mimpi-mimpi itu. Berhasil atau tidak, waktu memiliki catatan sendiri.

Meeting terakhir TRIC sebelum akreditasi
Setahun yang lalu, kami impikan memiliki perusahaan sendiri, kami bermimpi perusahaan itu dapat memberi peran sekecil apapun untuk pengelolaan hutan dan sektor kehutanan di Indonesia. Mimpi yang gila, untuk anak-anak muda yang tidak memiliki dasar bisnis apapun dan tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola itu semua. Kami belajar dari keadaan, bertanya dan berguru pada orang-orang yang jauh lebih berpengalaman, kami mencoba mengatasi segala keadaan dan mencoba menciptakan peluang dari semua keterbatasan. Dibina oleh banyak cibiran, saling men-support untuk mengatasi cobaan, mencoba saling berbagi untuk menutup banyak kekurangan. Perusahaan ini dibentuk oleh ide gila, orang-orang gila, dan didirikan dari relung yang memiliki banyak kekurangan.

Sore ini adalah meeting terakhir persiapan TRIC sebelum akreditasi. Menyenangkan, tapi kurang satu personil, Luqman sedang berangkat ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Sebuah mimpi yang kami bangun "dari Nol", jika boleh aku menirukan slogan SPBU. Kami mengisi tangki kosong, mencari bahan bakar untuk lokomotif yang bermula hanya mengawang di fikiran kami masing-masing. Mengumpulkan tetes-tetes keringat yang terserak entah dimana, mengumpulkan dan membangun mimpi dengan peluh usang itu. Kita harus percaya, mimpi itu indah!. Aku percaya, bahwa dalam hidup mimpi menjadi hal penting yang tidak hanya merangsang otak untuk berfikir keluar batas kehidupan normal, melainkan stimulus yang akan merangsang energi-energi positif dalam berkarya. Bukankah hidup sekecil-kecilnya untuk dapat memberi manfaat? Setidaknya untuk diri sendiri, manfaat untuk diri sendiri akan tercipta jika mimpi bisa diwujudkan.

Setahun, aku tidak menulis, tidak pula aktif membaca. Media sosial juga tidak lebih dari basa-basi biasa, chek-in ditempat baru, atau hanya posting-posting foto. Hampir tidak ada konten penting yang aku tulis, padahal aku percaya bahwa salah satu fungsi media sosial adalah refleksi dimasa depan untuk kita bisa mengenang perjalanan hidup dan bisa dibaca dikemudian hari. Setahun adalah waktu yang cukup panjang, energi terfokus dan tercurah untuk membangunkan mimpi-mimpiku dalam tidur panjang. Dalam sebuah seminar, pernah ada yang menyampaikan pertanyaan kepadaku ; "mas, untuk pemula modal apa yang kita butuhkan untuk membangun usaha?". Aku bingung harus menjawab apa, satu hal yang aku tau dan hingga saat ini aku miliki adalah kita harus memahami passion. Hidup tidaklah singkat, pengalaman-pengalaman yang ditemui akan sangat membosankan jika tidak dijalani dan didasari oleh kesenangan dan ketertarikan. Akhirnya, sesuatu yang dimulai dengan interest akan secara konsisten kita jalankan dan percayalah setiap pengalaman yang dibangun dengan rasa suka dan konsisten akan menjadikan sebuah bangunan penting dalam kehidupan. Kita bisa saja menjalani hidup dengan berpura-pura atau bahkan membohongi diri sendiri, namun nurani akan selalu membisikkan bahwa bukan itu jalan yang sebenarnya dan bukan itupula pencapaian yang hendak dilabuhkan. Sesimpel itu kah? Kira-kira begitu. Bisikan nurani itupula yang sebenarnya merupakan doktrin dari mimpi, mimpi yang sering disadari tidak bermakna namun sering pula mendatangkan penyesalan di masa yang akan datang. Mimpi yang sebenarnya setiap orang berpeluang membangunnya, menjadikan mimpi itu sebagai istana, taman tempat menikmati hidup, rumah tempat berteduh, atau mesjid tempat kita bisa mengamalkan segala kebaikan.

Semoga bermanfaat,
HMW


Catatan :
Tulisan ini ditulis tanggal 14 Desember 2015, tiga hari sebelum PT. Trifos Internasional Sertifikasi akan di akreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).