Soeta Gate F4

Pagi ini, hatiku tak karuan rasanya. Sejak semalam, memang sudah begitu. Ini adalah hari dimana orang-orang berbondong ke Jakarta, untuk Reuni 212. Aku tenggelam dalam rombongan mereka, tapi bukan untuk ikut bersama mereka di Monas, tapi aku ingin pulang.

Orang pertama yg aku sapa subuh ini adalah seorang driver taxi. Ya aku menggunakan jasanya karena Damri tidak beroperasi di Stasiun Gambir akibat demo alumni 212. Di perjalanan, aku tau kalau dia adalah orang Tegal. Ia seorang bapak, anaknya 3 orang. Anak pertama dan kedua tinggal di Tegal untuk sekolah. Sedang yg kecil, hidup di Jakarta bersama Ia dan Istrinya. Istrinya juga bekerja, "kalau istri gak kerja, susah Mas hidup di Jakarta, rumah aja masih ngontrak", begitu katanya.

Orang kedua yg aku temui adalah seorang bapak bapak juga, di Gate F terminal 2 bandara Soeta. Orang ini unik, dari penampilannya aku tau kalau Ia bukan orang sembarangan. Jeans biru, sepatu sport, kemeja lengan di gulung dengan kancing atas terbuka, pakai kalung liontin giok besar, cincin bermata besar, di dadanya menyembul ukiran tatto. Yang menarik untukku adalah, matanya memerah dan Ia terlihat kalut.

Aku mencoba membantunya ketika Ia terlihat bingung mencari gate 7, ruang tunggunya. Aku hantar Ia sampai pintu ruang tunggu. Dari perbincangan sebentar sejak di jalan dan di eskalator bandara, aku tau Ia sedang berduka. Ayahnya meninggal dunia di Toba, Sumatera Utara. Ia harus pulang lewat Bandara Silangit, bandara yg baru di resmikan Presiden Joko Widodo akhir bulan lalu.

"Kita ini perantau Bang, jauh, susah, sedih Aku!, sekarang apa yg bisa aku lakukan", begitu katanya kepadaku. Matanya berkaca, sampai ketika aku tepuk pundaknya tanda aku harus pergi menuju ruang tunggu lain.

2 orang pagi ini, adalah aku selama 10 tahun terakhir. Seorang perantau. Mereka bercerita dengan versi masing-masing, dan bahan cerita yg berbeda pula. Aku tau yang mereka ceritakan apa adanya. Dari mereka, aku tau bahwa tidak mudah hidup di perantauan, juga dari orang-orang perantauan yg lain.

Mereka juga tidak sama-sama tau bahwa aku menuliskan ceritanya dalam blog ini. Bahwa apa yg mereka rasakan adalah tidak jauh beda dengan yg aku rasa saat ini, itu memang bukan urusan mereka. Pertemuanku hanya sekilas saja, namun aku menulis tentang mereka agar aku ingat bahwa detai perjalanan kali ini adalah catatan penting untuk dikenang. Sebelum aku beranjak dari Stasiun Gambir subuh ini, ada lagi air yg menetes sambil hatiku berkata

"Pak, Bu, rasanya aku gak kuat".

Catatan Desember 2017

Sampai akhirnya, harus menetes air mata dalam sujud jumat siang
Air mata yg sangat berat hingga tulang belulang tak mampu mengangkat diri dari doa, rasanya
Apalah aku, seorang lelaki dengan harap, doa, dan usaha
Engkau penentu semuanya, jika jalan itu terlalu terjal, aku yakin kau memintaku menengadah dan perlahan menjalani
Aku yg telah lama hilang, kini mulai kau temukan
Jalan yg sangat gersang, setelah lama bekal-bekalmu ku tinggalkan
Adakah yg lebih sakit dari cerita akhir 2017?
Aku berharap selalu kau kuatkan
Jika esok adalah hari yg harus kita hibahkan, maka yakinlah bahwa ada kuasaNya
Jika esok adalah hari yg harus kita lalui, maka yakinlah bahwa bekal yg kita kumpulkan harus memberi manfaat
Aku memang teramat kecil untuk menjadi pongah
Teramat rapuh untuk terus diuji
Biar kuasaNya menentukan jalan kita
Biar kuasaNya menujukkan arah kita
Biar kuasaNya mutlak untuk kita
Tersenyumlah
Sesederhana itu kita harus mengucap syukur, ya harusnya begitu

Separuh

Bagaimana kalau kita membelah diri?
Sebagian biar menjadi sampah, dikehidupan sekarang
Sebagian lagi menjadi benih yg tumbuh, kita rawat dan sirami dengan kasih sayang
Tapi, kita tak mungkin bisa memilih itu semua
Nyatanya, keadaan yg pahit harus di telan
Penyesalan yg dalam juga harus di hadapi
Aku mahluk kecil dengan untaian doa doa

Lelaki, Senja, dan Secangkir Teh Tawar (1)

Angin yang biasa semilir, senja ini tidak hadir. Awan yg biasanya mengiris langit, dengan labirin keemasan, tak jua terlihat. Hanya dinding langit begitu jernih, keabu-abuan, tanpa gumpalan awan. Di ujung utara, gunung-gunung berjejer rapi, tidak pernah beranjak di peraduannya. Seorang lelaki duduk di sisi pintu rumah, memandang nanar entah kemana. Sesekali burung gereja menari di dinding pagar tembok, pembatas rumah dengan sawah tempat setiap malam kodok kodok bersenda gurau.

Disampingnya, diseduh secangkir teh hangat. Sesekali, dikecap tiap seduhan teh yg masih mengepul. Tatap yg nanar itu sendu, seperti tidak hidup untuk waktu yg akan datang.

X X X X

"Balek magrib, dak tau kalau magrib itu setan banyak keluyuran. Ondeh, anak ndak namuah di kecek-an. Orang azan, inyo alun mandi." Ibu begitu meradang, marah pada anak laki-lakinya.

Sore itu, di lapangan belakang rumah seperti biasanya anak anak kampung Bungkal bermain sepakbola. Lapangan yang pada siang hari menjadi tempat mencari makan kerbau dan tempat berkubang, sore harinya di sulap menjadi satu satunya hiburan oleh masyarakat satu kampung. Satu tim sepak bola, bisa sampai 15 orang jumlahnya. Tanpa sepatu, yg membedakan antar tim adalah tim yg memimpin gol menggunakan baju, yg kalah hanya menggunakan celana. Simple, sederhana pola yg diterapkan. Pulang, pasti badan sudah berkeringat campur lumpur.

"Mandi malam malam, alun tuo ala kanai sakik pinggang beko", begitu hardik Ibu selanjutnya setelah sang anak keluar dari kamar mandi.

Ibu memang orang Minang, logat sudah bercampur melayu, karena kami sudah lama tinggal dilingkungan melayu. Seorang yg sangat ditakuti karena sering memarahi anak anaknya, yg selalu mengganggu tidur nyenyak anak anaknya ketika pagi sudah tiba. Ibu juga, yg mengharuskan anak laki lakinya menjadi seorang anak yg berbeda dari teman teman sebaya di kampungnya, yang harus menyabit rumput, mengaji saat magrib, belajar kitab al-barzanji, dan tampil di muka umum saat acara besar di surau.

X X X X X

"Zzzzzz zzzzzz zzzzz" suara getar handphone mengganggu lamun lelaki yg tengah tenang menikmati teh tawarnya.

"Assalamualaikum Bu, apo kabar?" Begitulah pembukaan telp di senja itu. Ada yang berubah, tatapan lelaki itu tak lagi nanar. Seduhan teh tawar semakin sering di minum, matanya bersinar, semangat ia bercerita tentang entah apa saja. Di ujung awang, di balik harap, di sisi misteri, Ia membubuhkan harap pada sebuah handphone yg senja itu tiba-tiba bergetar. Ada rindu, yang harus dituntaskannnya.

Bersambung...

Tempat Untuk Pulang

Adakah yang mampu memberi jawaban
Kemana aku harus pulang?

Alam sekitar membeku
Aku menyesali ilalang yang hanya diam
Mengutuk awan yang hilang berganti
Sungguh aku membenci
Pertanyaan-pertanyaan tentang pulang
Mengusik palung dalam jiwa,
Yang lama aku simpan dalam diam

Yang aku benci
Sesungguhnya bukan pertanyaan-pertanyaan
Bukan pula permintaan untuk pulang
Aku membenci sosok dalam kaca, yang takut, yang beku, yang bodoh
Semakin aku jauh, semakin aku membunuh waktu
Aku makin tidak menemukan, jawaban untuk segera pulang