Desa Logika (Barometer Pemilu) ; Tentang rakyat, calon pemimpin, dan media

Cerita pada sebuah desa yang berada di pinggir Sungai Lubuk Lais, dikepung hijau dan rimbun hutan. Desa itu  adalah desa tempat dulu aku hidup, Desa Logika.

Di Desa Logika, penduduknya berjumlah sekitar 100 kepala keluarga. Kehidupan di desa yang belum tersentuh program Keluarga Berencana (KB), rata-rata satu keluarga memiliki lebih dari 5 orang anak. Setiap anak dan anggota keluarga lainnya tidak berperilaku seolah satu keluarga, hidup dengan keterbatasan setiap hari membuat kompetisi terjadi bahkan sampai taraf terkecil : antar anggota keluarga.

Bulan April 2000, negara Endonesyah menjalani pesta negara, disebut oleh rakyat Desa Logika sebagai Pesta Rakyat. Pesta Rakyat dimaknai sebagai sebuah momentum dimana rakyat merayakan kemerdekaan mereka dalam menghimpun pundi-pundi uang. Mayoritas pemuda desa adalah pengangguran, mendapat pekerjaan sebagai calo tiap calon anggota parlemen yang berambisi kekuasaan. Dari lima anggota keluarga, bisa memiliki lima partai yang berbeda. Satu orang, satu partai. 

Suatu hari, 3 orang pemuda kampung dengan gagahnya pulang Rapat Koordinasi Partai Kucing di Ibu Kota Negara. Mendadak gaya berpakaian mereka berubah, sepasang pantofel lengkap dengan celana kain dan kemeja yang dimasukkan. Waktu berkumpul main domino, mereka berbicara tentang perubahan dan kesalahan haluan negara. Saat di surau, mendadak mereka menjadi penceramah setelah Sholat Magrib. Saat ada warga yang meninggal, mendadak mereka menjadi pribadi yang santun. Dengan penampilan yang dibuat seolah sebagai intelektual muda, mereka melakukan banyak manufer perubahan yang tidak dibutuhkan di kampungnya. Semua menjadi aneh dan memancing manufer lain dari semua pendukung partai yang berbeda-beda.

Desa Logika berubah menjadi desa intelektual. Dimana-mana setiap malam berkumpul massa yang berdiskusi. Berdiskusi tentang konsep menangkap ikan yang baik, konsep membuat pembukuan desa yang baik, berdiskusi tentang pembatasan populasi warga, berdiskusi tentang inventarisasi kayu di hutan mereka, berdiskusi tentang upaya membangun lapangan pekerjaan, berdiskusi tentang taraf pendidikan, sering juga berdiskusi tentang anak petani yang masih perawan. Kampung menjadi sangat ideal dalam penerapan sebuah konsep negara demokrasi, itu menjelang pemilu April tahun 2000.

Waktu kampanye tiba, semua orang berkeinginan mendukung tokoh yang diunggulkan. Poster, spanduk, kartu nama, foto orang tua, visi dan misi, lambang partai, kaos warna partai, sampai buku tulis siswa dipenuhi oleh kemeriahan pemilu. Desa Logika tidak ketinggalan. Setiap hari selalu ada acara keramaian di lapangan depan balai desa. Setiap malam, pelacur mendapat pekerjaan yang rutin karena dipastikan akan melayani dan menjadi penghilang penat para kader partai yang siangnya telah berkampanye. Dengan kedok konsolidasi dan rapat tim sukses, sekretariat partai-partai di Desa Logika menjadi base-camp baru untuk pelacur yang sengaja dipakaikan pakaian ala pemenangan partai dan dimasukkan dalam daftar tim sukses. Istri-istri dengan bangga bercerita pada keluarga dan dalam arisan bahwa suaminya adalah tokoh di partai dan setiap malam selalu rapat disekretariat.

Tugas ketua RT semakin berat menjelang pemilu. Tidak sedikit rumah warganya yang bertikai akibat anggota keluarga memiliki pandangan politik yang berbeda. Belum lagi ditambah tugas menyebar uang dari peserta pemilu. Setiap warga sudah enggan  bekerja sejak musim kampanye datang, setiap pagi selalu ada tim sukses yang datang menghantar uang dengan pesan "pilih tuan *** dengan nomor urut ** partai **". 

Tibalah masanya pemilu dilangsungkan. Kertas suara berisi 60 foto calon legislatif dengan latar sesuai warna dasar partai masing-masing. Warga enggan untuk datang ke lokasi pemilihan suara. Para tim sukses dan para pelacur yang sengaja diminta untuk meramaikan tempat pemilu kebingungan. Tidak ada satupun warga yang datang sampai hampir tengah hari. Satu jam lagi waktu pencoblosan akan berakhir namun kotak suara belum terisi sama sekali. Tim sukses mulai resah, bingung, dan takut. Sudah pasti jika tidak ada suara yang masuk maka tidak akan mungkin jagoannya menjadi pemenang. Ini adalah hal gawat. Dengan inisiatif dan kebijaksanaannya, Kepala Desa pergi bersama salah seorang ketua RT menuju surau. Pengeras suara dinyalakan dan diumumkan kepada seluruh penghuni Desa Logika untuk segera menuju tempat pemilu. 

Setengah jam setelah pengumuman belum tampak adanya warga yang datang ke lokasi pemilu. Tim Sukses dan para Pejabat Desa bertambah resah. Beberapa handphone tim sukses mulai sibuk dengan pertanyaan dari para calon legislatif yang menanyakan suara yang Ia dapat. Hansip, Panwaslu, Bawaslu, Kepala Desa, dan Seluruh ketua RT memohon izin untuk mencoba berkeliling kampung. Tinggallah tempat pemilu dihuni oleh tim sukses dan pelacur yang tercatat sebagai kader. Sampai akhir batas waktu pemilu, tidak satu orang-pun dari perangkat desa tersebut yang datang kembali ke lokasi pemilu. Ternyata mereka telah pulang ke rumah masing-masing. 

Satu hari setelah pemilu di jalankan. Nama Desa Logika mendadak terkenal, desa ini menjadi liputan media cetak dan televisi. Wartawan berdatangan dan warga-warga banyak yang diwawancara. Dalam sekejap, Desa Logika menjadi sorotan publik lokal hingga nasional. Ada yang menarik dari pemberitaan media terhadap Desa Logika. Desa Logika dinilai sebagai contoh desa yang telah cerdas dan menerapkan demokrasi secara penuh. Semua warga tidak memilih karena memang menjadi bagian dari tindakan protes terhadap semua calon wakil rakyat yang telah menjalankan praktek politik uang. Dalam pemberitaan juga disampaikan bahwa warga enggan menggunakan hak suaranya karena tidak percaya kepada para warga kepada wakil rakyat yang dinilai tidak memiliki etika. 

Desa Logika menjadi cermin demokrasi nasional. Semua media mengapresiasi komitmen yang tegas dari semua warga. Aku sendiri melihat keanehan dari semua yang diberitakan. Kekuatan apa sebenarnya yang menutupi kebenaran yang harganya semakin mahal? Siapa yang cerdas dan siapa yang berkuasa terhadap isu? Siapa yang akhirnya menjadi pemenang dan dipecundangi? Rakyat, para calon pemimpin, atau media yang menjadi pemenang? Menurutku, yang menjadi pemenang adalah Golput. Ya, Golput yang berhasil menjadi pemenang di Desa Logika. Itulah desa itu akhirnya terkenal, dikenal, dan abadi menjadi barometer politik nasional sebagai Desa Logika.

(Sebuah Fiksi)

Semakbelukar - Sebuah Portofolio


"Rasa marah adalah anugerah, untuk kita yang berpikir
Maka marahlah kepada semua hal yang rusak dan merusak
Rasa malas adalah anugerah, untuk kita yang berpikir
Maka bermalaslah untuk lakukan semua hal yang tak berguna" --lirik Malas Marah (Semakbelukar)


Penggalan lirik yang didendangkan Semakbelukar menyempurnakan petuah lirik yang didendangkan dengan khas nada-nada cengkok Melayu. Seperti membenarkan bahwa melayu itu adalah cara bertutur, dalam lagu-lagu mereka menyampaikan pesan yang sarada akan kehidupan sehari-hari. Musik yang mendobrak eksistensi aliran yang deras masuk tapi tidak beraakar dalam nuansa musik belakangan ini.

Aku terkesima dengan dobrakan musik ini, mengubah kembali paradigma karya dengan alat-alat sederhana yang akhirnya menjadikan sebuah musik. Lekat sekali dengan etnis, seperti pesan-pesan dalam diksi dituliskan begitu sempurna. Semakbelukar datang dan berlalu begitu saja dalam pertumbuhan rasa cinta akan musik melayu yang telah cukup lama ditinggalkan. Musik yang belakangan lebih sering digantikan dengan nada-nada elektronik, menjemput keinginan pasar dan tuntutan produksi. Idealnya mereka datang seperti hujan ditengah gersangnya suasana telinga, menyentil lewat rima-rima yang dirangkai menjadi tiap bait bak petuah. Sebelum menjadi besar, mereka hilang dan pergi begitu saja. Meninggalkan karya yang terus dinikmati oleh sebagian kecil penikmat musik. Mungkin bukan Semakbelukar lagi yang akan menjadi perahu mereka untuk "Berlayar di Daratan". Setidaknya, ini gambaran untuk mereka tetap "Mekar Mewangi", setidaknya begitu pendapatku. Ini adalah group musik paling brengsek yang aku tau, mereka berlalu begitu saja ketika banyak yang mulai menyukai karya mereka.

Be(re)ncana__Semakbelukar

"terlahir dan terasingkan tak lantas menjadi duka,
hanya karena berbeda tak berarti hilang luka,
karena sempurna itu hanya sebuah rencana,
karena sempurna itu hanya sebuah bencana,

terbuang dan terlupakan tak lantasmenjadi duka
hanya karena terbatas tak berarti tanpa belas,
karena sempurna itu hanya sebuah rencana,
karena sempurna itu hanya sebuah bencana,

untuk yang memuja, bukan yang dipuja

Terlahir dan terasingkan tak lantas menjadikan luka hilang muka"

Zaman Masker dan Tabung Oksigen

Men, kali ini kita bahas agak serius sedikit tentang "kemungkinan" akibat pencemaran udara yang terus-terusan diberitakan (bahasa keren-nya "polusi"). Idenya secara iseng saat istirahat, aku ngobrol-ngobrol dengan rekan tentang ngeri-nya fenomena alam yang terjadi saat ini. Selanjutnya, kami terbayangkan kemungkinan yang sangat mengejutkan ; kemungkinan manusia BERUBAH menjadi orang-orang ber-masker yang selalu menggendong tabung oksigen. Ya, seperti hero-hero di kartun animasi, tapi ini lebih keren lagi karena semua orang akan menggunakan seragam yang sama. Wow, makin seru macam di film-film.

Sumber : Google Picture
Men, keren kan ya kalau semua orang menggunakan kostum yang kira-kira seperti gambar diatas. Eh, tapi tunggu dulu kita harus melihat kira-kira tabung oksigen selama ini berfungsi untuk apa? Yap, fungsi utamanya adalah menyimpan oksigen yang "bersih" dan bisa dimanfaatkan untuk membantu pernafasan. Selama ini tabung oksigen digunakan oleh beberapa profesi, misalnya pendakian gunung, penyelaman, dan kebutuhan medis. Pendakian gunung membutuhkan tabung dan bantuan oksigen dalam pernafasannya karena diketinggian ketersediaan oksigen akan semakin menipis. Penyelaman sudah jelas sekali, karena keterbatasan kemampuan manusia dalam menahan nafas  dan di dalam air tidak tersedia oksigen yang bisa dihirup manusia, maka penyelaman selalu dibantu dengan tabung oksigen. Selanjutnya untuk keperluan medis, nah kalau untuk hal ini sangat spesifik sekali. Sebenarnya di ruangan rumah sakit kan tersedia oksigen Wak? Yuhuuuu, itu betul tapi MUNGKIN tabung oksigen dan suplai oksigen diberikan pada pasien rumah sakit karena terdapat gangguan pernafasan atau mereka membutuhkan suplai oksigen yang "sehat" dan "bersih". Tapi itu kemungkinan saja, aku tidak tau alasan pastinya.

Beberapa waktu lalu aku kaget baca artikel di Kompasiana yang judulnya Jokowi-Ahok Bersama PGN, Kompak Urus Jakarta (Ini Baru Oke). Men, ini bukan tentang Jokowi-Ahok atau tentang isu politik menjelang pemilu, tapi ada beberapa bagian tulisannya yang bikin hati menohok. Ini kutipannya : 

"Masa depan kesehatan anak-anak Jakarta terancam buruk akibat penggunaan BBM bersubsidi (premium dan solar)
Taukah Anda ? konsumsi BBM bersubsidi hampir mencapai 9 juta liter per hari. 1 Liter bensin saja bisa melepaskan 3KG karbon dioksida. Bisa dbayangkan berapa juta kilogram gas karbon dioksida terlepas di udara? Belum lagi partikel berbahaya lain seperti timbal dan sulfur (yang juga terkandung dalam bensin) yang terlepas di udara saat bersamaan.

Penelitian PPK -UI tahun 2001 (Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia) terhadap 400 orang anak Jakarta, 140 diantaranya kedapatan mengandung timbal (Pb) dalam darahnya. Kondisi ini menyebabkan anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit seperti kerusakan sistem saraf, jantung dan metabolisme." Ditulis Oleh Maria Citinjaks.

Itu hasil penelitian 13 tahun yang lalu. Men,  35 % anak-anak di Jakarta darahnya telah terkontaminasi unsur kimia yang disebabkan oleh polusi. Bagaimana dengan tahun 2014? No..no..no, aku tidak tahu..! Membayangkannya saja sudah ngeri-ngeri sedap, apalagi jika benar kita tau perkembangan data ini setiap tahunnya. Ah, ngeri kali.

Lalu apa hubungannya dengan Manusia Ber-Masker dan Tabung Oksigen?

Men, pernah di rilis sebuah film yang judulnya Wall-E yang bercerita bagaimana perkembangan zaman dan teknologi. Film ini memperlihatkan bagaimana manusia tidak layak lagi hidup dimuka bumi sehingga manusia dengan segala kecanggihannya menciptakan sebuah dunia dengan penuh kecanggihan teknologi didalamnya. Mungkin film Wall-E itu adalah wujud nasib kehidupan jauh kedepan, mungkin. Tapi dunia ber-masker dan tabung oksigen akan menjadi pendahulu sebelum dunia seperti film Wall-E terbentuk. Wallahualam..:)

Men, mungkin terlalu ekstrim membayangkannya jika ada Zaman Masker dan Tabung Oksigen. Tapi mari kita lihat aktifitas yang saat ini terjadi di kota-kota :
Pacaran Pakai Masker
sekolah pakai masker
Ibadah pakai masker
Berangkat kerja pakai masker
Belanja pakai Masker
Men, jangan bilang kalau aktivitas diatas tidak terjadi dimuka bumi ini sekarang. Bahkan di Jakarta, (kalau kita cermat melihat sekeliling) kita akan melihat orang-orang menggunakan masker saat di dalam Transjakarta. Ha? Yap, dalam bis ber-AC sekalipun orang-orang butuh udara yg bersih dan sehat. Mengapa dalam ruangan ber-AC mereka tetap pakai masker? Mungkin karena debu dan jenis polutan lainnya bisa saja lengket ditiap orang yang menggunakan jasa bus atau teknologi AC bis yang sudah mulai jelek. Itu mungkin saja, tapi fenomena masker ini nyata ada.

Mengapa orang di kota-kota memilih menggunakan masker?
Jawabannya adalah tentang kenyamanan dan kesehatan. Udara yang tidak bersih diperkotaan dapat mengakibatkan banyak penyakit pernafasan. Jika digabungkan dengan efek sistemik yang disajikan dalam hasil penelitian diatas, rasanya mungkin banyak orang yang akan menggunakan masker dalam aktifitasnya. "Ngeri-ngeri sedap" Men, ah menakutkan sekali. Apakah hanya udara Jakarta yang bernasib begitu dimuka bumi ini? No, polusi adalah permasalahan sebagian besar kota di dunia. Kemajuan yang tidak diiringi dengan penataan pola hidup yang pro-lingkungan pasti akan selalu berdampak buruk pada daya dukung lingkungan hidup. Mungkin berasal dari pola transportasi, industrialisasi, pembebasan lahan dan perubahan tutupan lahan, pola dan gaya hidup, atau penyebab lainnya. Ah, nononononoo... Bagaimana dengan konsep Manusia Masker dan Tabung Oksigen kita diawal tadi?

Yap, jika sekarang banyak orang telah familiar menngunakan masker dalam aktivitasnya, berarti yang belum familiar adalah membawa tabung oksigen kemana-kemana. Men, jika kita lihat data kerusakan lingkungan saat ini maka mungkin saja suatu saat kandungan Oksigen di muka bumi ini sama banyak atau bahkan lebih sedikit dibandingkan gas polutan lainnya. Coba kita lihat konsep sederhana dalam fotosintesis dan respirasi yang hampir semua orang belajar ketika sekolah dasar, SMP dan SMA.

Sumber : Google Image
Men, jika kita melihat hubungan sebab-akibat dari kemungkinan Zaman Masker dan Tabung Oksigen. Maka aku kembali sadar bahwa aktifitas dan ambisi manusia ternyata telah berperan sangat besar dalam pelepasan gas polutan ke atmosfir. Men, lebih gila lagi ternyata tumbuhan dengan sukarela menyerap karbondioksida (CO2) dalam proses fotosintesisnya dan melepas Oksigen (O2) untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Men, dalam satu konsep "bertahan hidup" ini saja kita disadarkan peran tanaman yang begitu luar biasa. Lantas bagaimana secara sangat bijaksana pohon-pohon menyimpan CO2 yang diserapnya dalam biomassa. Wow, ini hubungan yang sederhana, telah diajarkan sejak kita kecil, tapi sulit untuk tetap disadari oleh semua manusia penghuni bumi ini.

Ternyata dalam sebuah bayangan mengerikan tentang Zaman Masker dan Tabung Oksigen, aku melihat kembali solusi untuk mencegah itu semua bisa terjadi. Yap, mempertahankan hutan dan terus menambah jumlahnya. Men, sekali-sekalilah kita melihat bagaimana harmoni itu tercipta antara kehidupan manusia dengan keseimbangan alam. Sederhana saja, kita bisa melihat itu semua dalam sebuah jawaban : Masyarakat sekitar hutan. Ini buktinya :
Sumber : Google Image
Sumber : Google Image
Sumber : Google Image
Sumber : Google Image

Hananto Maryan Wiguna

Ketika Hutan Mendoktrin Aku Menjadi Gila..!


Hallo kawan, 

Seperti yang kalian tau, aku begitu cinta dengan hutan dan semua yang ada didalamnya. Eiits, bukan juga dengan semuanya sih, kalau ada perempuan didalam hutan enggak dengan serta merta langsung cinta ya, posisinya sekarang aku sudah punya pacar.. Ahaai..:) Yap, cinta banget dengan hutan, sampai rasa cinta itu seperti merasuk dalam benak paling dalam hinga meresap dalam banget ke semua pemikiran-pemikiran, ahaaai, lebay banget memang. Yang jelas aku bingung menyampaikan rasa cinta terhadap hutan, tapi intinya AKU CINTA BANGET DENGAN HUTAN.

Kembali ke topik cerita. Ceritanya ketika aku merasa hutan telah mendoktrin pemikiranku sehingga benar-benar menggilainya. Ketika bekerja, seolah-olah aku sedang pendekatan alias PDKT ke semua orang dan dengan gamblang menceritakan betapa berartinya hutan. Ketika duduk di cafe, nongkrong dengan pengamen, ketika naik ojek, ketika di taxi, bahkan ketika ngobrol dengan pacar aku banyak cerita betapa pentingnya menjaga hutan. Gila memang, seperti lupa tempat dan lupa waktu jika berbicara tentang hutan. Indah banget rasanya, asli aku dibikin tergila-gila mencintai seisi hutan. WOW

Jauh sebelum aku mengenal ilmu kehutanan, hutan merupakan tempat yang mengasyikkan untuk masa kecilku. Gila, masa kecilku indah banget. Ketika aku butuh memelihara burung? Aku dan teman-teman pergi ke hutan mencari sarang burung yang masih ada telurnya dan dengan rajin menunggu telur itu hingga menetas. Saat musim pohon Seleak berbuah, aku dan teman-teman pergi ke hutan untuk mencari bambu dan buah seleak, kami main perang-perangan dengan alat yang dibuat dari bambu tadi. Saat musim durian, hutan menyediakan. Musim bedaro/kelengkeng, di hutan juga aku akan mencari buah tersebut. Hutan menyediakan semuanya, GILA! semua itu membuatku menancapkan niat kuat untuk nekad belajar di tanah Jawa, merantau!.

Hutan itu memang tidak pernah membosankan. Bahkan sampai saat ini dimana aku telah menjadi sarjana dan bekerja di salah satu kota besar Negeri ini, aku rindu sekali dengan hutan yang sangat aku cintai!. Woiii, GILA... HUTAN? Aku hidup di kota besar, memiliki gaji yang cukup, semua akses kemajuan ada disini, tapi aku tidak menikmati kehidupan. Mungkin aku bagian dari orang yang tidak bersyukur? rasanya enggak lah ya, ini tentang rasa dan selera saja kok, toh sejauh ini aku tabah-tabahin aja menjadi seorang karyawan dan memenuhi kewajiban pekerjaan. Woiii, GILA. Apa yang tidak ada di kota? Setiap saat aku bisa saja menikmati kemajuan masyarakat yang tercermin di pusat-pusat hiburan dan pusat perbelanjaan, setiap waktu aku dapat menagakses kemajuan informasi dan teknologi, setiap saat aku bisa menikmati hasil pengolahan energi (seperti listrik, AC, Internet, dan banyak macam lainnya), setiap waktu aku bisa menghubungi orang-orang karena signal telekomunikasi tidak pernah putus di kota ini. Tapi tidak untukku mungkin, aku terlalu mencintai hutan. Wow.. mindstream sekali! yakin sampai segitunya? Rasanya begitu, aku  bahkan tidak dapat menikmati hari-hari santai jika di kota (apalagi hari-hari padat). Mencoba memaksakan untuk merubah pola hidup agar dapat menyesuaikan dengan kehidupan kota, tapi itu sampai sekarang berhasil merubah hanya untuk waktu tertentu dan kembali aku sangat merindukan HUTAN.

Men, Hutan itu sederhana dan mengasyikkan! Gila banget Men.. Mengapa begitu? Kalian pasti punya perspektive sendiri dalam menilai sebuah kenikmatan pada lingkunga. Tapi menurutku, keasyikan yang membuat selalu rindu dari hutan itu adalah perpaduan atau interaksi dari semua komponen yang ada didalamnya. Itu semua bukan rekayasa dan tidak ada sistem politik yang mengaturnya. Yap, semua sistem kehidupan berjalan secara berkelanjutan (sustainable), saling membutuhkan dan mengisi, saling menyempurnakan ciptaan pencipta dan output dari semua itu adalah menambah keindahan kehidupan. Sekali lagi WOW banget, semua interaksi bermuara pada menambah dan menyempurnakan ciptaan pencipta. Sekali lagi lebay? Oh, kali ini rasanya aku tidak begitu lebay. Sadar atau tidak, interaksi dari semua komponen yang ada di hutan berorientasi seperti yang disebutkan diatas. Contohnya apa Wak? oke kita bahas contohnya sekarang : 
  1. Pernah kalian melihat kampanye penyelamatan Orang Utan? pasti sering. Menurutku orang-orang yang tulus melakukan kampanye ini adalah orang-orang yang jauh lebih dulu dan lebih paham tentang filosofi dari semua interaksi diatas tadi. Kalian tau menyelamatkan Orang Utan bukan hanya menyelamatkan mereka dari ancaman kehidupan seperti menyelamatkan TKI dari pengadilan di Malaysia, tidak sama seperti seorang pengacara menyelamatkan seorang koruptor, tidak sama pula dengan seorang polisi yang menyelamatkan anak kecil dari pencuikan! Tapi menyelamatkan sebuah sistem kehidupan lengkap dengan cara menyelamatkan Orang Utan. Mengapa menyelamatkan sebuah sistem kehidupan? Yap, ketika kita bersepakat untuk menyelamatkan Orang Utan, artinya kita akan menyelamatkan semua sistem kehidupan yang ada di habitat asli Orang Utan. Bisa kita bayangkan jika semua orang sadar betapa pentingnya menyelamatkan habitat satwa, hutan yang diselamatkan bukan hanya akan menyelamatkan Orang Utan saja, tapi akan menyimpan jutaan ton karbon, menyimpan jutaan kibik air, kayu, obat dan bahan obat-obatan, hingga menjadi splayer tiada henti untuk oksigen yang secara suka rela kita hirup sehari-hari.
  2. Pernah kita melihat banyaknya keragaman budaya? Ya, Indonesia ini terdiri dari bermacam-macam kebudayaan daerah, saking banyaknya para pendiri bangsa sampai membuat sebuah kalimat perekat keragaman ini "Bhineka Tunggal Ika", Yaaap itu filosofis banget. Lalu apa hubungannya dengan hutan? Sadar atau tidak, hutan kita selama ini bisa bertahan salah satunya berkat kearifan budaya lokal. Men, bayangin jika interaksi manusia dengan alam terbalut menjadi satu dalam budaya dan itu semua bermuara pada tujuan diatas tadi "menambah dan menyempurnakan ciptaan pencipta", Gila banget hasilnya men...! Contohnya dimana dan giman Wak? Aku g' akan cerita tentang Suku Samin, Suku Baduy, Suku Mentawai, Suku Korowai, Suku Dayak, Suku Bajo, Suku Anak Dalam, atau suku-suku lainnya yang memang sudah banyak ter-ekspose berkat kegigihan mempertahankan kelestarian alamnya. Anggapan orang-orang tentang "suku" yang selalu diidentikan dengan "kekunoan" dan dianggap wajar jika bisa mempertahankan kelestarian alam. Tapi aku punya contoh interaksi budaya masyarakat yang terdiri dari berbagai suku tapi tetap sadar akan pentingnya kelestarian alam. Masyarakat Desa Wae Sano terdiri dari berberapa suku, nenek moyang yang bercampur namun lama berdiam di Desa sekitar hutan Mbeliling, Manggarai Barat, NTT. Yang unik apanya wak? Oh, bukan tentang budaya, tapi sebuah garis pemikiran yang seragam dalam memahami pentingnya menjaga kelestarian hutan. Sadar akan keterbatasan kemampuan alam dalam menopang sumber kehidupan (terutama air), masyarakat ini secara tidak sadar membentuk pemikiran tentang pentingnya menjaga kelestarian sumber mata air. Men, mereka tidak dipaksa, mereka tidak diatur oleh Undang-Undang, mereka tidak akan di hukum adat, tapi secara tersendiri mereka sadar pentingnya menjaga hutan demi kelestarian mata air. Ini contoh sederhana betapa sebenarnya masyarakat menjadi bagian penting dari kelestarian kehidupan dimuka bumi, sebenarnya secara tidak sadar manusia juga menjadi bagian penting dalam interaksi kehidupan. 
  3. Kampanye pentingnya membangun Biopori di kota-kota. Men, kali ini contonya agak modern dan sedikit berat. Tapi ide dan pemikiran tentang Biopori ini sebenarnya timbul dari hal yang sederhana. Secara sadar kita diperlihatkan sebuah siklus masuk dan lepasnya air tanah. Wak, apa hubungannya hidrologi dengan kelestarian hutan? Men, hutan-lah yang mengajarkan dan memperlihatkan siklus ini pertama kali. Wak, kau makin GILA, kau ngomong mengada-ngada WAK..!, Men, terserah kalian mau mikir seperti apa, sebelum kalian jengkel dengan ini semua, aku jelaskan logikanya.
Ini Men konsepnya. Kok bisa wak? Okeh kita mulai. Sebenarnya hutan itu inspiratif banget. Hujan yang datang benarlah jika diibaratkan sebagai anugerah, syaratnya adalah sistem yang ada di alam harus berjalan dengan baik. Lihat di gambar, air hujan yang jatuh sebagian akan menguap, ada yang mengalir lewat dedaunan dan ada juga yang mengalir lewat batang pohon. Nah, air yang sampai ke tanah akan masuk melalui pori-pori tanah yang terbuka akibat adanya seresah dan bahan organik lainnya. Akar pohon akan sangat membantu memperbaiki struktur kepadatan tanah. Dengan interaksi sedemikian rupa dari yang terjadi dipermukaan hingga dalam tanah, akhirnya air yang ada di atas tanah akan dengan segera meresap ke dalam tanah dan menjadi CADANGAN AIR TANAH. Sederhana bukan? Iya, syaratnya sekali lagi harus berjalan seimbang. Yang keren adalah sistem seperti itu yang menjadi isnspirasi sehingga timbul rekayasa ilmu pengetahuan berupa sumur resapan (Biopori). Men, logika hebat dari ilmu pengetahuan itu ternyata ber-hulu dari interaksi antar sistem di dalam hutan!, maka tidak heran kan jika sekarang kita lihat Jakarta mendapat kiriman air dari Bogor sehingga Jakarta banjir ; itu karena kemampuan menyerap air di daerah hulu tidak lagi sesuai fungsinya. Aliran permukaan meningkat dan volume air yang masuk sungai meningkat, sedangkan kandungan air tanah akan berkurang. Jangan heran jika suatu saat daerah yang terkena banjir akan mengalami kekeringan air, itu terjadi karena fungsi dari semua interaksi telah diubah dan direkayasa kita. Kita tidak belajar dari hutan tentang kearifan menjaga siklus air Men, WoW... Ini salah satu yang bikin aku cinta banget....banget dan bangeeeet kepada hutan. Atas dasar itu maka aku rasa pentinglah untuk kita semua menjaga hutan.
  1. Masih ada WAK contoh lainnya? Men, masih banyak banget.. Kalian mau tau bentuk lain cara hutan dalam "menambah dan menyempurnakan ciptaan pencipta"? Mulailah kalian menjadi bagian dari hutan. Kalian akan merasakan sendiri.
Men, hutan itu menyimpan kekayaan yang tak ternilai dan tak terhitung. Mau apa dari hutan? Asal kita bisa menikmati dan menghargai, dengan sederhana hutan telah menyediakan semuanya. Hutan kita adalah hutan hujan tropis yang diberkahi iklim terbaik. Pertumbuhan tanaman hutan kita merupakan salah satu riap tertinggi didunia. Keanekaragaman hayati hutan kita merupakan salah satu keanekaragaman hayati terkaya didunia. Produk-produk kayu kita merupakan kayu-kayu terbaik dunia. Cadangan karbon dari hutan kita merupakan salah satu penyimpanan karbon terbanyak didunia. Men, dengan semua kekayaan itu hutan dengan sederhana telah memberi kehudupan kepada kita semua. Tapi balasan kita kepadanya? Kita ambil sebanyak-banyaknya hasil hutan kita untuk memperkaya diri, mengandalkan pendapatan untuk membangun negeri ini dari memusnahkan hutan. Kita bagi-bagi kawasan hutan menjadi lahan-lahan milik pribadi atau golongan. Kita ambil semua kehidupan satwa-satwa demi keinginan koleksi pribadi. Kita ambil tumbuhan-tumbuhan demi menghiasi taman di rumah. Kita ambil tanaman-tanaman menjadi bahan obat perusahaan obat kelas dunia. Men, apa yang kita lakukan dan kita biarkan? Semoga itu semua bukan bagian dari dosa kita semua, semoga pencipta memaafkan kelakuan-kelakuan itu. Sebuah twit dari teman yang mengingatkan kita untuk sadar : "Ratusan masy desa hutan mati utk mebel2 n kertas yg kupakai, ribuan petani miskin utk nasi yg kumakan, ribuan buruh mati utk gadget mahalku" @PemudaBelati.

Hutan juga membuatku jatuh cinta  pada negeri ini ; Indonesia. Men, untuk hal ini mungkin kecintaanku pada Indonesia masih jauh jika dibandingkan dengan kalian. Awalnya karena hutan aku bisa tau bahwa alam dan budaya Indonesia ini begitu kaya. Gunungnya menyemburkan tanah-tanah baru yang sangat subur untuk kehidupan agriculture masyarakat. Tanahnya menyimpaan jutaan mineral dan menjadi tempat hidup jutaan keragaman hayati. Lautnya kaya banget men, berenang diatasnya seperti berenang diatas lautan minyak. Ya, laut kita selain menyimpan minyak tapi juga menyimpan kekayaan biota yang tak terhitung jumlahnya. Gila, Indonesia ini kaya banget men. Hutan ini mengajarkan untuk aku terus bersyukur, hutan mengajarkan kesederhanaan, dan yang terpenting hutan telah membuat aku GILA. Aku percaya bahwa Tuhan telah menciptakan isi bumi ini secara sustain dengan semua sistem yang terbentuk dengan alami. Men, aku rasa hidup yang sub-sistem akan menciptakan kebahagiaan, kita diperlihatkan betapa desa-desa telah bertahan ribuan tahun dengan pola eksploitasi SDA yang sub-sistem ini. Men, hutan telah mendoktrin aku menjadi GILA dalam memandang esensi hidup yang lebih dalam, Tuhan menepati janji-janjinya melalui pelajaran bersama alam.

Hananto Maryan Wiguna



















Sementara

Ditengah senja
Sabtu penutup lamun
Menerka metamorfosa, sketsa wajah yg bersemayam di hati
Rimbun kenangan, melawan hujan
Menitih rindu, semerbak yg 'tak terlihat
Kita berkelana dalam diam

"hai Bu Dokter, aku tengah cidera
menjalani hari dikursi roda
seperti aku yang dulu, terbalut mimpi indah
aku menangis, peri kecil tanpa sayap
indah dunia, aku kecilkan bagai semut yg tak lagi terlihat
meniti ruang, aku datang untuk menyerahkan sepenuhnya kesembuhan padamu"

Angin menerjang membunuh
Aku ingin berjumpa
!
Aku rindu bertemu
!
Katakan cara apa yg bisa aku lakukan
!
Melampaui kenangan, menyerbak membunuh
Laut, datanglah, bunuh
Aku serahkan padamu semuanya
Cinta yang tidak lagi aku bisa  tau indahnya
Angin, kembalilah, pergi
Aku titipkan padamu jiwa yg renta
Hati yang frustasi, bawalah kemana akan engkau hembuskan
Apa lagi yang ingin aku lakukan?
Seperti merana meronta-ronta
Aaaaaargggh..
Tiada yg mendengar,
Aku ingin pergi, menikmati sepi
Sementara cinta, biarlah membuatmu menjadi indah
Sementara waktu, biarlah berjalan seperti biasa